Gaya Hidup
DAI: Penanganan Campak dan Difteri Lebih Mendesak Dibanding Hantavirus
Kaltimtoday.co - Di tengah meningkatnya perhatian publik terhadap ancaman hantavirus, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengingatkan bahwa penyakit infeksi seperti campak dan difteri justru jauh lebih mendesak untuk ditangani di Indonesia.
Anggota Unit Kerja Koordinasi Infeksi Penyakit Tropik IDAI, Prof. Dr. Dominicus Husada, mengungkapkan keprihatinannya terhadap banyaknya kasus infeksi yang belum tertangani optimal. Menurutnya, Indonesia masih berjibaku dengan penyakit lama yang hingga kini belum sepenuhnya terkendali.
"Yang membuat saya prihatin, saat ini rumah kita sudah terbakar. Kasus infeksi di Indonesia begitu banyak dan kita belum memiliki sumber daya yang cukup untuk mengatasinya," ujar Dr. Dominicus, Sabtu (9/5/2026).
Campak dan Difteri Masih Menjadi Ancaman Nyata
Penyakit seperti campak, difteri, tetanus, hingga pertusis dinilai masih menjadi persoalan kesehatan yang nyata di berbagai daerah. Dominicus menyebutkan bahwa difteri telah menjadi masalah selama belasan tahun, sementara kasus campak yang melonjak sejak beberapa tahun lalu pun belum tuntas hingga hari ini.
Masyarakat dan pemerintah diharapkan tidak lengah. Meskipun kewaspadaan terhadap virus baru tetap diperlukan, penyakit yang jumlah kasusnya jauh lebih tinggi dan berdampak besar pada anak-anak harus tetap menjadi prioritas utama.
Masih banyak masyarakat yang belum mendapatkan perlindungan optimal, terutama melalui imunisasi. Padahal, penyakit-penyakit tersebut sebenarnya sangat mungkin dicegah jika cakupan vaksinasi merata di seluruh wilayah.
Mengenal Bahaya Hantavirus
Hantavirus merupakan kelompok virus yang dibawa oleh hewan pengerat, terutama tikus. Penularan biasanya terjadi saat seseorang menghirup partikel virus di udara yang berasal dari urine, feses, atau air liur tikus di ruang tertutup.
Gejala awal virus ini meliputi demam, nyeri otot, dan kelelahan yang muncul satu hingga delapan minggu setelah terpapar. Pada kondisi berat, pasien dapat mengalami gangguan paru serius hingga tekanan darah rendah yang mengancam nyawa.
Hingga saat ini, belum ada vaksin atau pengobatan khusus untuk hantavirus. Pasien dengan kondisi kritis biasanya memerlukan perawatan intensif di ICU. Oleh karena itu, menjaga kebersihan lingkungan agar terbebas dari tikus menjadi langkah pencegahan yang paling efektif.
Pentingnya Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS)
Dominicus menekankan pentingnya penerapan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) sebagai perlindungan mandiri. Kebiasaan menjaga kebersihan dan meningkatkan kesadaran terhadap infeksi adalah langkah pencegahan yang relatif murah namun sangat efektif.
Di tengah munculnya berbagai isu kesehatan baru, IDAI Sebut Campak dan Difteri Lebih Mendesak dari Hantavirus, Ini Alasannya untuk mengingatkan prioritas penanganan wabah di dalam negeri. Dengan fokus pada penyakit yang memiliki jumlah kasus besar, diharapkan angka kesakitan pada anak-anak Indonesia dapat ditekan secara signifikan.
informasi lain terkait lingkungan bisa kunjungi https://dlh-muarabungo.aisyiyahduri.sch.id untuk meningkatkan pemahaman Anda.
Related Posts
- 6 Obat Asam Lambung Alami: Kunyit, Madu, hingga Jahe
- 5 Cara Sarapan Pagi untuk Turunkan Kolesterol Jahat
- Menakar Manfaat Minum Soda Berkarbonasi Beserta Efek Sampingnya bagi Kesehatan
- Suka Kretek Punggung? Perhatikan Efek Samping dan Bahayanya
- 9 Akibat Kelebihan Protein bagi Tubuh dan Ciri-Ciri yang Perlu Diwaspadai









