Nasional
Dolar Tembus Rp 18.000 Bikin Tiket Pesawat Melejit, Bandara Luar Jawa Mulai Sepi Wisatawan
Kaltimtoday - Lonjakan nilai tukar dolar AS yang kini menembus level Rp 18.000 mulai memukul pergerakan wisatawan nusantara (wisnus). Kenaikan mata uang asing tersebut turut mendorong lonjakan harga bahan bakar avtur, yang berdampak langsung pada meroketnya harga tiket pesawat domestik.
Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) melaporkan, dampak dari melambungnya harga tiket pesawat ini sudah mulai memicu penurunan aktivitas pergerakan penumpang di sejumlah bandara di luar Pulau Jawa.
Sekretaris Jenderal PHRI, Maulana Yusran, menjelaskan bahwa struktur industri penerbangan nasional memang sangat bergantung pada mata uang dolar AS. Ketergantungan ini terutama berkaitan dengan komponen biaya sewa (leasing) armada pesawat serta biaya perawatan suku cadang (maintenance).
Ketika nilai tukar dolar AS menguat tajam, maskapai penerbangan terpaksa menyesuaikan tarif tiket ke batas atas untuk menutupi membengkaknya biaya operasional. Kondisi dilematis tersebut secara langsung menurunkan minat masyarakat untuk bepergian menggunakan moda transportasi udara.
"Kondisi ini terlihat pada libur panjang kemarin, di mana bandara-bandara di Sumatra dan wilayah timur terpantau sepi. Wisnus kini enggan bepergian jauh jika harus menggunakan transportasi udara," ungkap Maulana saat dihubungi oleh Beritasatu.com, Jumat (5/6/2026).
Maulana menilai ketergantungan sektor pariwisata daerah terhadap konektivitas udara kini menjadi tantangan yang sangat berat. Oleh karena itu, PHRI berharap pemerintah segera mengambil langkah taktis untuk meredam fluktuasi harga tiket pesawat. Intervensi ini diperlukan agar ketimpangan angka kunjungan antara Pulau Jawa dan luar Jawa tidak semakin melebar.
Guna menyiasati kondisi penurunan wisnus akibat kendala transportasi tersebut, Maulana meminta para pelaku industri perhotelan untuk jeli memanfaatkan setiap peluang promosi yang tersedia. Kampanye digital yang masif dinilai menjadi langkah paling efektif dan efisien untuk menjangkau pangsa pasar wisatawan mancanegara (wisman) saat ini.
"Kami harus gencar melakukan promosi melalui online travel agent (OTA), memaksimalkan situs web resmi hotel, serta aktif di media sosial. Sampaikan pesan bahwa berlibur ke Indonesia sekarang jauh lebih menguntungkan," jelas Maulana memaparkan strateginya.
Selain mengandalkan promosi digital, PHRI juga mendorong manajemen hotel untuk melakukan sales call langsung ke negara-negara yang menjadi pasar potensial. Langkah kolaborasi dengan maskapai penerbangan untuk menciptakan paket bundling menginap dan terbang yang menarik juga diharapkan dapat mendongkrak kembali tingkat keterisian kamar (load factor) di tengah ketidakpastian ekonomi global.
[RWT]
Related Posts
- IHSG Anjlok Tajam Tinggalkan Level 6.000, Analis: Investor Pertanyakan Kredibilitas Kebijakan Ekonomi Indonesia
- Rupiah Melemah Bikin Harga Kedelai Impor Meroket, Pedagang Siasati Jual Tahu Tempe Ukuran Mini
- BI Diminta Turunkan Bunga SRBI demi Sehatkan Pasar SBN dan Struktur Pasar Keuangan
- Rupiah Kian Tertekan, Kurs Jual Dolar AS di Bank Mandiri, BNI, dan BCA Tembus Rp 17.800
- Belajar dari Krisis 1998, Ini Strategi Baru Bank Indonesia Jaga Rupiah Tanpa Kuras Likuiditas







