Internasional

Harga Minyak Dunia Melemah 1%, Dipicu Sinyal Kesepakatan Nuklir Iran-AS

Kaltim Today
25 Februari 2026 10:29
Harga Minyak Dunia Melemah 1%, Dipicu Sinyal Kesepakatan Nuklir Iran-AS
Kapal tanker minyak Iran, Fortune, berlabuh di dermaga kilang El Palito dekat Puerto Cabello, Venezuela, 25 Mei 2020. (Foto AP/Ernesto Vargas, Arsip)

JAKARTA, Kaltimtoday.co - Harga minyak dunia ditutup melemah sekitar 1% pada perdagangan Rabu (25/2/2026). Penurunan ini dipicu oleh pernyataan Iran yang menyatakan kesiapannya mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk mencapai kesepakatan nuklir dengan Amerika Serikat (AS).

Minyak mentah Brent menetap di level US$ 70,77 per barel, atau turun US$ 0,72 dari harga sebelumnya sekitar US$ 71,49 per barel. Sementara itu, minyak West Texas Intermediate (WTI) juga melandai US$ 0,68 menjadi US$ 65,63 per barel dari posisi sebelumnya sekitar US$ 66,31 per barel.

Menteri Luar Negeri Oman, Badr Albusaidi, menginformasikan bahwa Iran dan AS dijadwalkan menggelar putaran ketiga perundingan nuklir pada Kamis (26/2/2026) di Jenewa. Iran sendiri merupakan produsen minyak terbesar ketiga dalam Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC).

Pemerintah AS mendesak Iran untuk menghentikan program nuklirnya dan telah memperkuat kehadiran militernya di kawasan tersebut dengan mengirim kapal induk, kapal perang, hingga jet tempur. Di sisi lain, Iran secara konsisten membantah tuduhan pengembangan senjata nuklir.

Wakil menteri luar negeri Iran pada Selasa (24/2/2026) menegaskan bahwa Teheran siap mencapai kesepakatan guna meredakan ketegangan antara kedua negara. Bank Swiss UBS memproyeksikan harga minyak berpotensi terus turun secara moderat dalam beberapa pekan ke depan, asalkan tidak terjadi eskalasi konflik di Timur Tengah.

Meskipun terdapat sinyal perundingan, situasi di lapangan masih menunjukkan ketegangan. Departemen Luar Negeri AS dilaporkan mulai menarik staf pemerintah yang tidak penting beserta keluarga mereka dari Kedutaan Besar AS di Beirut menyusul kekhawatiran terhadap potensi konflik dengan Iran.

Kondisi pasar minyak juga dipengaruhi oleh data persediaan minyak mentah AS yang mengalami lonjakan signifikan. Stok minyak mentah naik sekitar 11,43 juta barel pada pekan yang berakhir 20 Februari.

Angka kenaikan stok tersebut jauh melampaui proyeksi analis yang sebelumnya hanya memperkirakan kenaikan sekitar 1,5 juta barel. Sementara itu, pada periode yang sama, stok bensin dan distilat di AS terpantau mengalami penurunan.

[TOS]



Berita Lainnya