Opini
Hari Lingkungan Hidup: Jangan Terjebak Slogan Palsu
Oleh: Syamsul Rijal (Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman)
Pernahkah Anda merasa cuaca di Samarinda, Balikpapan, atau kota-kota lain di Kalimantan Timur akhir-akhir ini terasa jauh lebih menyengat dari biasanya? Saat berkendara di siang hari, aspal seolah menguapkan hawa panas yang bikin gerah, bahkan pendingin ruangan pun kadang terasa kewalahan. Fenomena ini bukan sekadar perasaan kolektif kita semata. Secara global, bumi sedang mengirimkan sinyal darurat lewat rekor kenaikan suhu yang terus pecah.
Tepat hari ini, 5 Juni, dunia kembali memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia dengan mengusung tema besar #SekarangUntukIklim. Sebuah seruan tegas bahwa menunda aksi penyelamatan lingkungan tidak lagi bisa ditoleransi. Namun, menjelang momentum ini, sudut-sudut kota di Kaltim justru mendadak dipenuhi baliho korporasi dan instansi yang ramai-ramai memajang kata-kata magis seperti “Sustainable”, “Eco-Friendly”, hingga “Green Energy”. Pertanyaannya: apakah semua jargon indah itu benar-benar menyelamatkan bumi kita, atau justru sebaliknya?
Seorang profesor ekolinguistik, Arran Stibbe, dalam bukunya Ecolinguistics: Language, Ecology and the Stories We Live By, mengingatkan kita tentang adanya “Cerita Ambivalen” (Ambivalent Stories). Narasi ambivalen adalah jebakan bahasa yang dari luar tampak sangat ramah lingkungan, berkelanjutan, dan membawa manfaat, tetapi jika dibedah lebih dalam, ia sebenarnya menyembunyikan, bahkan melegitimasi, daya rusak yang masif terhadap ekosistem itu sendiri.
Di Bumi Etam, kita dikepung oleh slogan-slogan ambivalen semacam ini. Mari kita bedah salah satu contoh paling nyata yang dekat dengan kehidupan kita: jargon “Reklamasi Hijau” atau “Tambang Berkelanjutan” (Sustainable Mining). Secara linguistik, penyematan kata “hijau” dan “berkelanjutan” di samping kata “tambang” menciptakan ilusi di benak masyarakat umum bahwa industri ekstraktif batu bara bisa berjalan selaras dengan kelestarian alam.
Narasi ini membuat kita mafhum ketika sebuah korporasi menanam beberapa ratus pohon di bekas lubang galian, lalu mengklaimnya sebagai aksi penyelamatan lingkungan. Padahal, secara ekologis, ekosistem hutan hujan tropis Kaltim yang telah hancur total akibat pengerukan tidak akan pernah bisa kembali seperti semula hanya dengan penanaman pohon homogen. Di balik kata “berkelanjutan” itu, pencemaran air sungai, ancaman banjir, hingga hilangnya ruang hidup masyarakat lingkar tambang tetap berjalan langgeng. Kata “hijau” di sini berfungsi sebagai kosmetik untuk menutupi daya rusak yang tak pulih.
Contoh ambivalensi kedua dapat kita temukan pada euforia “Transisi Energi” dan kendaraan listrik yang belakangan digaungkan. Narasi global maupun lokal menyebutkan bahwa beralih ke kendaraan listrik adalah solusi mutlak demi “Langit Biru Tanpa Emisi”. Slogan ini terdengar sangat heroik dan tanpa cela. Namun, bagi masyarakat Kaltim, narasi ini berwajah ganda. Untuk membuat baterai kendaraan listrik yang bebas emisi di perkotaan besar tersebut, bumi Kaltim harus kembali dikeruk demi mendapatkan batu bara dan mineral pengisinya. Kutukan industri ekstraktif baru bergeser rupa. Slogan kendaraan ramah lingkungan ini menjadi ambivalen karena ia menyelesaikan masalah polusi di hilir (kota besar), namun memindahkan serta melipatgandakan kerusakan ekologis dan sosial di hulu (daerah tambang Kaltim).
Tidak hanya di level industri makro, di tingkat domestik pun kita terjebak dalam ambivalensi serupa lewat maraknya produk berlabel “Eco-Bag” atau kantong belanja ramah lingkungan. Peraturan daerah yang melarang kantong plastik sekali pakai di ritel modern memaksa kita membeli kantong kain berulang kali. Alih-alih mengurangi sampah, ruang penyimpanan di rumah kita kini justru dipenuhi oleh tumpukan eco-bag yang jarang dipakai ulang.
Secara sains-ekologis, proses produksi kantong kain membutuhkan air dan energi yang jauh lebih besar daripada plastik biasa. Slogan “ramah lingkungan” pada kantong tersebut berubah menjadi destruktif ketika ia hanya memicu perilaku konsumtif baru di kalangan masyarakat.
Melalui kacamata Arran Stibbe, Hari Lingkungan Hidup Sedunia harus menjadi momentum penting untuk melakukan “dekonstruksi” terhadap bahasa-bahasa yang kita gunakan sehari-hari. Kita harus mulai kritis dan berani menggugat: apakah program-program lingkungan yang dipromosikan di sekitar kita benar-benar menyembuhkan bumi, atau sekadar strategi greenwashing untuk menenangkan rasa bersalah konsumen?
Kalimantan Timur, dengan segala megaproyek pembangunan infrastruktur dan transisi energinya, berada pada titik krusial.
Kita tidak boleh lagi terbuai oleh narasi-narasi kosmetik. Sudah saatnya kita menuntut kebijakan lingkungan yang jujur, bukan yang ambivalen. Menyelamatkan lingkungan hidup bukan tentang seberapa pintar kita merangkai kata-kata hijau di atas kertas atau baliho kampanye, melainkan seberapa berani kita menghentikan daya rusak nyata di atas tanah tempat kita berpijak. Jangan biarkan masa depan Bumi Etam habis dikunyah oleh slogan-slogan indah yang menipu.(*)
*) Opini penulis ini merupakan tanggung jawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi kaltimtoday.co
Related Posts
- NISN dan NIK Tidak Ditemukan Saat Cek PIP Juni 2026? Jangan Panik, Ini Penyebab dan Solusinya
- Distransnaker Kukar Siapkan Alternatif bagi Pekerja Terdampak PHK Tambang
- Warga Loa Bakung Tegaskan SHM Harga Mati, Tolak Perpanjangan HGB Meski Ada Keringanan Biaya
- Komisi IV DPRD Bakal Evaluasi Strategi Pendidikan Samarinda Jelang APBD 2027
- Pemkab Kukar Tahan Realisasi Sejumlah Proyek, Dana Transfer Baru Sentuh 23 Persen









