Internasional
Kelompok Houthi Yaman Ancam Lancarkan Serangan Baru di Laut Merah saat Kapal Induk AS Bergerak ke Arah Iran
DUBAI - Pemberontak Houthi di Yaman yang didukung Iran mengancam akan kembali menyerang kapal-kapal yang melintas di koridor Laut Merah, diduga untuk menunjukkan dukungan kepada Iran yang pada Senin tengah cemas dengan kedatangan kapal induk Amerika Serikat setelah Presiden Donald Trump mengancam aksi militer atas penumpasan demonstrasi nasional di negara itu.
Dalam sebuah video pendek, Houthi menampilkan kembali cuplikan lama sebuah kapal yang terbakar dengan teks bertuliskan: “Segera.” Mereka tidak menjelaskan lebih lanjut, namun kampanye mereka di Laut Merah sebelumnya telah menargetkan lebih dari 100 kapal sebagai bagian dari tekanan terhadap Israel terkait perang melawan Hamas di Jalur Gaza. Houthi menghentikan serangan setelah gencatan senjata, namun berulang kali memperingatkan bisa kembali menembak jika diperlukan.
Ancaman Houthi muncul bersamaan dengan pergerakan kapal induk USS Abraham Lincoln dan sejumlah kapal perusak peluru kendali menuju kawasan tersebut. Trump mengatakan armada itu digerakkan “jika sewaktu-waktu” ia memutuskan mengambil tindakan terhadap Iran. Ia telah menetapkan dua “garis merah” untuk serangan — pembunuhan demonstran damai dan eksekusi massal terhadap mereka yang ditangkap dalam operasi penumpasan besar-besaran.
Iran Perketat Ruang Udara dan Layangkan Peringatan Baru
Juru bicara Kementerian Pertahanan Iran, Jenderal Reza Talaei-Nik, pada Senin kembali memperingatkan Israel dan AS bahwa setiap serangan akan “dibalas dengan respons yang lebih menyakitkan dan lebih tegas daripada sebelumnya.” Televisi pemerintah Iran mengutip Talaei-Nik yang menyebut ancaman dari kedua negara itu menuntut Iran “menjaga kesiapsiagaan penuh dan menyeluruh.”
Akhir pekan lalu, Iran memasang spanduk baru di Lapangan Enghelab yang menggambarkan kapal induk penuh mayat dan bercak darah dengan peringatan: “Barangsiapa menabur angin, akan menuai badai.” Namun, Iran masih terpukul oleh perang 12 hari yang dilancarkan Israel pada Juni lalu yang menghancurkan sebagian besar sistem pertahanan udaranya, menewaskan sejumlah petinggi militer, dan membuat fasilitas pengayaan nuklirnya dibom oleh AS.
Sebagai tanda kekhawatiran atas ruang udaranya, Iran pada Minggu mengeluarkan pemberitahuan kepada pilot yang melarang pesawat kecil milik pribadi terbang di wilayah negara itu, dengan pengecualian untuk industri minyak dan penerbangan medis darurat. Banyak maskapai Barat mulai menghindari wilayah udara Iran karena ketegangan yang meningkat, meski maskapai Teluk yang terbang ke Moskow masih mengandalkan rute tersebut. Pada 2020, pasukan pertahanan udara Iran menembak jatuh pesawat penumpang Ukraina dan menewaskan 176 orang di dalamnya.
Korban Tewas dalam Penumpasan Protes Terus Bertambah
Gelombang protes di Iran dimulai pada 28 Desember, dipicu kejatuhan nilai mata uang rial dan dengan cepat menyebar ke seluruh negeri. Aksi itu dibalas dengan penumpasan keras oleh rezim teokrasi Iran, yang skala sebenarnya baru mulai terlihat setelah negara tersebut mengalami pemadaman internet lebih dari dua minggu — yang disebut sebagai yang paling luas dalam sejarah Iran.
Lembaga berbasis di AS, Human Rights Activists News Agency, pada Minggu mencatat sedikitnya 5.848 orang tewas dan lebih dari 41.280 orang ditangkap, dengan angka yang diperkirakan masih akan meningkat. Jaringan ini mengandalkan aktivis di dalam Iran untuk memverifikasi kematian, dan selama ini dianggap akurat dalam berbagai gelombang protes sebelumnya.
Angka tersebut melampaui jumlah korban dalam episode protes atau kerusuhan apa pun di Iran dalam beberapa dekade terakhir dan mengingatkan pada kekacauan menjelang Revolusi Islam 1979. Associated Press belum dapat secara independen mengonfirmasi angka itu. Sementara itu, pemerintah Iran mengklaim jumlah korban jauh lebih rendah, yakni 3.117 orang — 2.427 di antaranya disebut sebagai warga sipil dan aparat keamanan, sementara sisanya dilabeli sebagai “teroris.”
Teheran memiliki rekam jejak meremehkan atau sama sekali tidak melaporkan jumlah korban jiwa dalam berbagai kerusuhan sebelumnya, sehingga klaim resmi itu menuai keraguan dari kelompok hak asasi manusia internasional.
[TOS | AP]
Related Posts
- Israel kills 11 in Lebanon, a day after Trump said Israel and Hezbollah will de-escalate
- Tekan Iran, Donald Trump Desak Arab Saudi hingga Pakistan Normalisasi Hubungan dengan Israel
- Russia uses hypersonic Oreshnik missile in mass attack on Kyiv
- Trump says he's called off Iran strike planned for Tuesday at request of Gulf allies
- Russia fires 800 drones at Ukraine despite recent talk by Putin and Trump of possible peace









