Opini

Lagu MBG Menggeser Citra Politik

Kaltim Today
04 Juni 2026 20:22
Lagu MBG Menggeser Citra Politik
Ekmal Muhammad Firyal, Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Mulawarman.

Oleh: Ekmal Muhammad Firyal (Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Mulawarman)

AKU TERMASUK orang yang sangat bergantung pada media sosial. Bukan hanya untuk mencari hiburan, tetapi juga untuk mengetahui apa yang sedang terjadi di sekitar. Hampir setiap hari, ketika memiliki waktu luang, aku membuka TikTok untuk melihat berbagai informasi yang muncul di beranda. Namun ketika aku membuka TikTok, ada satu konten yang terus muncul berulang kali di layar gawaiku. Konten itu menggunakan lagu yang sama, lirik yang sama, dan sosok yang sama. Lagu tersebut adalah MBG.

Awalnya aku tidak terlalu mencermati. Aku mengira MBG masih merujuk pada program Makan Bergizi Gratis yang selama ini menjadi salah satu program unggulan pemerintah. Namun semakin sering terlewat di berandaku dan aku mendengarnya, semakin kusadari bahwa MBG dalam konteks ini telah bergeser makna menjadi "Mas Bahlil Ganteng".

Perubahan makna itu terasa menarik karena terjadi begitu saja tanpa perlu penjelasan panjang. Didukung dengan irama yang ringan, lirik yang sederhana, dan instrumen lagu yang mudah diterima berbagai generasi, lagu tersebut dengan cepat menempel di kepala. Bahkan tanpa sadar aku sering mengulang-ulang bagian tertentu karena terhibur saat memutarnya.

Semakin lama aku menghabiskan waktu di TikTok, semakin sering pula aku menemukan berbagai variasi konten dengan lagu yang sama. Visualnya berbeda-beda, tetapi semuanya berpusat pada sosok Bahlil. Ada yang menggunakan potongan video pidato, ada yang menampilkan ekspresi lucu, ada pula yang sekadar menyusun foto-foto dengan iringan lagu MBG.

Menariknya, aku hampir selalu menonton hingga selesai. Beberapa bahkan kuputar berulang kali. Hingga aku mulai menyadari sesuatu yang mengganggu pikiranku tanpa sadar perhatian yang sebelumnya mungkin tertuju pada kebijakan atau kontroversi yang berkaitan dengan Bahlil perlahan bergeser menjadi perhatian terhadap sosok personalnya.

Pengalaman tersebut membuatku berpikir bahwa viralitas MBG bukan sekadar fenomena hiburan biasa. Lagu ini menunjukkan bagaimana media digital dapat menjadi arena produksi makna yang sangat efektif. Di era algoritma, sesuatu yang terus muncul berulang kali akan lebih mudah menempel dalam ingatan dibandingkan informasi yang membutuhkan konsentrasi untuk dipahami. Akibatnya, batas antara hiburan, informasi, dan komunikasi politik menjadi semakin memudar.

Fenomena ini menjadi menarik untuk dibaca. Ketika kita menggunakan kacamata Roland Barthes yang menjelaskan bahwa tanda tidak hanya menghasilkan makna denotatif atau makna langsung, tetapi juga makna konotatif yang dapat berkembang menjadi mitos sosial.

Secara denotatif, frasa "Mas Bahlil Ganteng" hanyalah ungkapan pujian terhadap seorang tokoh. Tidak ada yang istimewa. Namun ketika frasa tersebut terus diulang melalui ribuan bahkan jutaan video, maknanya tidak lagi sesederhana pujian biasa.

Secara konotatif, frasa tersebut membangun anggapan mengenai kedekatan, keramahan, kesederhanaan, dan daya tarik personal. Lambat laun publik tidak hanya mendengar sebuah lagu, tetapi juga menerima seperangkat makna yang melekat pada figur yang disebutkan dalam lagu tersebut. Di sinilah sebuah mitos mulai terbentuk.

Sosok Bahlil yang sebelumnya lebih sering hadir dalam media pemberitaan mengenai kebijakan, polemik, maupun kritik publik, perlahan direpresentasikan sebagai figur yang santai, menyenangkan, akrab, dan mudah disukai.

Mitos semacam ini tidak tercipta secara instan. Ia lahir dari proses pengulangan yang terus-menerus. Semakin sering sebuah narasi muncul, semakin normal narasi tersebut diterima oleh publik. Lagu MBG pada akhirnya tidak hanya menjadi produk hiburan, tetapi juga menjadi alat produksi makna yang secara perlahan menggeser perhatian publik dari substansi menuju personalitas.

Fenomena tersebut juga dapat dijelaskan melalui pendekatan Critical Discourse Analysis yang dikembangkan oleh Norman Fairclough. Dalam pandangannya, bahasa bukan sekadar alat komunikasi, melainkan praktik sosial yang selalu berkaitan dengan relasi kuasa.

Wacana yang terus diproduksi dan direproduksi akan membentuk cara masyarakat memahami realitas. Karena itu, yang menarik dari MBG bukan hanya isi lagunya, tetapi bagaimana lagu tersebut beredar, digunakan kembali, dan diproduksi ulang oleh pengguna media sosial dalam jumlah yang sangat besar.

TikTok memungkinkan sebuah narasi tertentu mendominasi ruang publik digital melalui algoritma dan partisipasi pengguna. Ketika satu narasi terus diperkuat oleh ribuan unggahan, narasi lain berpotensi kehilangan ruang.

Akibatnya, pembahasan mengenai kontroversi, kritik kebijakan, atau dampak suatu keputusan politik dapat tenggelam di tengah arus algoritme yang lebih menarik perhatian publik. Perlahan-lahan wacana mengenai "Bahlil sebagai Menteri ESDM" dapat bergeser menjadi wacana mengenai "Bahlil sebagai figur yang lucu, santai, dan populer."

Di sinilah kekuasaan bekerja secara simbolik. Bukan melalui sensor, pelarangan kritik, atau pembungkaman secara langsung. Kekuasaan bekerja melalui pengelolaan perhatian. Publik tidak dipaksa untuk melupakan suatu isu, tetapi diarahkan untuk lebih memperhatikan hal lain yang terasa lebih menyenangkan. Dalam situasi seperti ini, hiburan memiliki daya saing yang jauh lebih tinggi dibandingkan diskusi kebijakan yang rumit dan melelahkan.

Sehingga ini membingkai suatu pemahaman ataupun persepsi, melalui teori framing Robert Entman. Menurut Entman, framing adalah proses menyeleksi aspek tertentu dari realitas dan membuatnya lebih menonjol sehingga mempengaruhi cara khalayak memahami suatu isu.

Apa yang ditampilkan kepada publik sering kali sama pentingnya dengan apa yang tidak ditampilkan. Dalam konteks MBG, aspek yang ditonjolkan bukanlah kebijakan, kinerja, ataupun kontroversi yang melekat pada seorang pejabat. Yang ditonjolkan adalah sosok personal yang dianggap menarik, dekat dengan publik, dan menghibur.

Akibatnya, realitas politik dibingkai melalui citra personal. Publik lebih mudah mengingat lagu dibandingkan substansi kebijakan. Mereka lebih mudah mengenali figur dibandingkan memahami struktur kekuasaan yang ada di belakangnya.

Tentu tidak berarti setiap orang yang mendengar lagu MBG akan langsung mendukung Bahlil secara politik. Kesimpulan seperti itu terlalu sederhana dan tidak memiliki dasar yang kuat. Namun yang patut dicermati adalah bagaimana lingkungan persepsi publik dapat berubah ketika citra personal terus-menerus diproduksi dan disebarkan melalui budaya populer.

Entman menjelaskan bahwa framing bekerja melalui empat elemen utama:

  1. Define Problems. Dalam tren MBG, fokus tidak lagi ditempatkan pada kontroversi atau kebijakan yang berkaitan dengan Bahlil, melainkan pada sosok personal yang dianggap menarik dan menghibur.
  2. Diagnose Causes. Popularitas tokoh diposisikan sebagai hasil dari kepribadian yang menyenangkan dan kedekatan dengan publik, bukan terutama karena posisi politik atau kebijakannya.
  3. Make Moral Judgements. Lirik dan penyebaran konten cenderung memberikan evaluasi positif terhadap figur yang dibicarakan. Tokoh tersebut direpresentasikan sebagai seseorang yang layak diapresiasi dan disukai.
  4.  Suggest Remedies. Secara implisit, audiens diarahkan untuk melihat tokoh tersebut melalui kacamata yang lebih positif dan santai, sehingga kritik atau sentimen negatif menjadi kurang dominan dalam ruang percakapan.

Dengan begitu, perlu kehati-hatian dalam menyimpulkan bahwa viralitas MBG secara otomatis meningkatkan dukungan politik terhadap Bahlil. Dari pengalaman berselancar di TikTok, aku memang merasa lebih sering melihat sosoknya dibandingkan membahas kebijakannya. Namun, ada asumsi yang perlu dikritisi kembali.

Banyak pengguna media sosial mengonsumsi tren semata sebagai hiburan tanpa menghubungkannya dengan preferensi politik mereka. Apalagi tingkat literasi politik masyarakat Indonesia masih sangat beragam.

Karena itu, yang lebih tepat dikatakan adalah bahwa lagu MBG berpotensi membentuk lingkungan persepsi yang lebih positif terhadap Bahlil, bukan secara langsung mengubah pilihan politik masyarakat.

Sebagai refleksi, fenomena lagu MBG menunjukkan bahwa komunikasi politik di era digital tidak lagi hanya berlangsung melalui pidato, konferensi pers, atau pemberitaan media massa. Politik kini hadir melalui lagu, meme, tren TikTok, dan berbagai bentuk budaya populer lainnya yang lebih dekat dengan keseharian masyarakat.

Dari semiotika, MBG tidak hanya menjadi lagu yang menghibur, tetapi juga memproduksi makna dan mitos baru tentang figur politik. Sosok yang sebelumnya lebih sering dikenal melalui kebijakan atau kontroversi tertentu dapat direpresentasikan ulang melalui simbol-simbol yang lebih ringan, akrab, dan menyenangkan.

Dalam konteks tersebut, pendekatan Critical Discourse Analysis menjadi relevan di Indonesia, untuk melihat bagaimana sebuah narasi diproduksi dan direproduksi secara terus-menerus di ruang digital. Yang menarik bukan hanya isi lagu MBG, tetapi bagaimana lagu tersebut beredar, digunakan ulang, dan menjadi bagian dari percakapan publik sehari-hari.

Sementara itu, melalui teori framing Robert Entman, viralitas lagu tersebut dapat dipahami sebagai proses penonjolan aspek tertentu dari realitas. Perhatian publik diarahkan pada citra personal seorang tokoh, sehingga isu-isu yang lebih substantif berpotensi tersisih oleh konten yang lebih menarik dan mudah dikonsumsi.

Pada akhirnya, pertanyaan kritis yang perlu diajukan bukanlah apakah lagu tersebut menghibur atau tidak. Pertanyaannya adalah ketika publik lebih banyak mengenal seorang pejabat melalui lagu viral daripada melalui kebijakannya, apakah ruang demokrasi sedang mengalami pendangkalan substansi politik atau justru transformasi bentuk komunikasi politik yang baru di Indonesia?

Jawabannya mungkin terletak pada tingkat literasi politik masyarakat itu sendiri. Ketika publik lebih mudah mengingat lagu dibandingkan memahami kebijakan, politik berisiko bergeser menjadi sekadar pertarungan citra.

Dalam situasi seperti ini, oligarki menemukan ruang yang subur untuk mempertahankan pengaruhnya. Bukan karena masyarakat secara sadar mendukung oligarki, melainkan karena perhatian publik terus diarahkan pada simbol, figur, dan hiburan, sementara pembahasan mengenai struktur kekuasaan, kepentingan ekonomi, dan dampak kebijakan semakin tersisih dari ruang percakapan.*



Berita Lainnya