Gaya Hidup

Riset Terbaru: Obesitas Tingkatkan Risiko Kanker hingga 55 Persen

Kaltim Today
23 April 2026 07:36
Riset Terbaru: Obesitas Tingkatkan Risiko Kanker hingga 55 Persen
Ilustrasi Obesitas

Kaltimtoday.co - Sebuah riset berskala besar yang diterbitkan dalam jurnal JAMA Oncology memberikan peringatan keras bagi kesehatan global. Penelitian yang melibatkan data dari Inggris, Jerman, dan Swedia ini menunjukkan bahwa dampak obesitas terhadap risiko kanker selama ini telah sangat diremehkan oleh publik maupun ahli kesehatan.

Di Inggris, obesitas kini menempati posisi kedua sebagai penyebab kanker yang paling dapat dicegah, tepat di belakang kebiasaan merokok. Data medis menunjukkan bahwa lebih dari 18.000 kasus kanker per tahun di negara tersebut berkaitan langsung dengan masalah kelebihan berat badan.

Dampak Jangka Panjang yang Tersembunyi

Para peneliti menganalisis data dari UK Biobank yang melibatkan lebih dari 458.000 sukarelawan. Awalnya, obesitas hanya dikaitkan dengan 7,2 persen kasus kanker pencernaan (gastrointestinal) dalam empat tahun pertama pemantauan. Namun, angka keterkaitan tersebut melonjak drastis menjadi 17,7 persen saat rentang waktu penelitian diperpanjang.

Lonjakan ini terjadi karena adanya fenomena penurunan berat badan yang tidak disengaja pada pasien yang kankernya belum terdeteksi. Sering kali, pasien terlihat memiliki berat badan "normal" saat didiagnosis, padahal mereka telah menderita obesitas selama bertahun-tahun yang menjadi pemicu utama kanker tersebut.

Untuk memahami lebih lanjut mengenai manajemen berat badan dan pencegahan penyakit tidak menular, Anda dapat mengakses berbagai informasi edukatif di laman poltekkeskotabangko.org sebagai referensi kesehatan yang kredibel.

Durasi Obesitas dan Bahaya Lemak Perut

Di Jerman, studi terhadap 10.000 orang menemukan fakta bahwa durasi seseorang mengalami kelebihan berat badan jauh lebih menentukan risiko kanker usus daripada angka indeks massa tubuh (BMI) sesaat. Orang yang mengalami obesitas dalam jangka waktu lama memiliki risiko 55 persen lebih tinggi terkena kanker dibandingkan mereka yang hanya memiliki BMI tinggi dalam waktu singkat.

Temuan menarik lainnya datang dari Swedia, di mana para ahli menemukan bahwa lingkar pinggang adalah prediktor risiko yang lebih akurat dibandingkan berat badan total. Pria dengan ukuran pinggang besar memiliki risiko kanker 25 persen lebih tinggi. Hal ini membuktikan bahwa lemak perut atau lemak viseral memiliki sifat yang lebih beracun secara biologis.

Kerangka Kerja Baru "PLUS"

Berdasarkan temuan ini, tim peneliti mengusulkan kerangka kerja baru yang disebut "PLUS". Metode ini mengajak penyedia layanan kesehatan untuk tidak hanya melihat angka BMI saat ini, tetapi juga mempertimbangkan:

  • Riwayat berat badan seumur hidup pasien.
  • Ukuran lingkar pinggang secara spesifik.

Fakta bahwa risiko kanker mulai meningkat bahkan sebelum seseorang mencapai ambang batas overweight.

Para penulis studi menegaskan bahwa pengendalian obesitas merupakan strategi pencegahan kanker yang paling sering diabaikan. Mereka menyerukan agar sistem kesehatan publik di seluruh dunia segera mengintegrasikan program penurunan berat badan sebagai langkah medis utama.

Meskipun studi ini bersifat observasional, pesannya sangat jelas: menjaga berat badan dan lingkar pinggang yang ideal bukan lagi sekadar urusan estetika. Langkah ini merupakan bentuk proteksi paling kuat untuk menghindari risiko penyakit mematikan di masa depan.

[TOS]



Berita Lainnya