Gaya Hidup
Sering Melamun Sendirian? Ini 3 Alasan Mengapa Overthinking Justru Memburuk Saat Sepi
Kaltimtoday.co - Pernahkah Anda merasa pikiran cemas menjadi berkali-kali lipat lebih intens saat sedang sendirian di kamar? Fenomena ini bukan sekadar perasaan belaka. Psikolog Jeffrey Bernstein, Ph.D., dalam laporannya di Psychology Today, mengungkap bahwa kesendirian sering kali menjadi "bahan bakar" utama bagi seseorang untuk terjebak dalam pusaran overthinking.
Menurut Bernstein, saat sendirian, otak kita kehilangan mekanisme pemeriksaan realitas (reality check). Tanpa adanya interaksi sosial, tidak ada kalibrasi emosional atau gangguan eksternal yang dapat menghentikan putaran pikiran negatif yang berulang.
Pentingnya "Social Buffering" bagi Kesehatan Mental
Bernstein memperkenalkan istilah Social Buffering, sebuah konsep psikologi sosial yang menjelaskan bagaimana kehadiran orang lain bertindak sebagai peredam stres dan pemutus siklus pikiran yang merusak.
Berikut adalah tiga alasan utama mengapa kehadiran orang lain sangat krusial dalam meredam overthinking:
1. Memutus Lingkaran Ancaman pada Otak
Saat seseorang terjebak dalam pikiran berulang, otak berada dalam kondisi sensitif terhadap ancaman. Berada di sekitar orang lain yang tenang dapat membantu sistem saraf menjadi lebih teratur dan mengalihkan perhatian dari skenario negatif. Bernstein sendiri sering berjalan di pusat perbelanjaan yang ramai untuk membantu meredakan perenungannya melalui stimulus visual dari orang-orang di sekitar.
2. Memperluas Perspektif Terhadap Masalah
Kesendirian cenderung membesar-besarkan persoalan kecil menjadi skenario bencana (catastrophizing). Sebaliknya, kehadiran sosial mengingatkan kita bahwa masalah yang dihadapi hanyalah satu bagian kecil dari kehidupan. Melihat orang lain yang juga berjuang menghadapi realitas membantu kita menyadari bahwa kita tidak sendirian dalam pergulatan manusiawi tersebut.
3. Memutus Stagnasi Mental Melalui Keterlibatan
Overthinking tumbuh subur dalam ketidakaktifan. Keraguan dan stagnasi mental akan memperkuat siklus pikiran jika kita hanya berdiam diri. Bernstein menekankan bahwa keterlibatan dengan dunia luar adalah kunci untuk memaksa otak keluar dari pusaran pikiran dan kembali pada tindakan nyata.
Bagi masyarakat yang ingin mendalami teknik regulasi emosi, panduan menghadapi kecemasan pada anak dan remaja, serta tips menjaga kesehatan mental harian, referensi edukasi lengkap tersedia di laman poltekkeskotametro.org. Memahami cara kerja otak adalah langkah pertama menuju kedamaian pikiran.
Mengenal Model PACE untuk Mengatasi Overthinking
Dalam bukunya yang berjudul “Freeing Your Child From Overthinking”, Bernstein memperkenalkan model PACEsebagai langkah praktis memutus siklus pikiran negatif:
- P (Pause): Berhenti sejenak dan tarik napas dalam dengan tenang.
- A (Acknowledge): Mengakui dengan sadar bahwa Anda sedang terjebak overthinking.
- C (Contain): Menahan diri agar tidak berusaha menyelesaikan semua masalah sekaligus saat itu juga.
- E (Engagement): Segera kembali terlibat dalam aktivitas nyata atau interaksi sosial, meskipun terasa kurang nyaman pada awalnya.
Dengan menerapkan model PACE dan mencari koneksi sosial, pusaran pikiran yang tadinya terasa menyesakkan dapat diredam, sehingga Anda bisa kembali fokus pada tindakan yang produktif dan menenangkan.
Related Posts
- 6 Obat Asam Lambung Alami: Kunyit, Madu, hingga Jahe
- 5 Cara Sarapan Pagi untuk Turunkan Kolesterol Jahat
- Menakar Manfaat Minum Soda Berkarbonasi Beserta Efek Sampingnya bagi Kesehatan
- Suka Kretek Punggung? Perhatikan Efek Samping dan Bahayanya
- 9 Akibat Kelebihan Protein bagi Tubuh dan Ciri-Ciri yang Perlu Diwaspadai









