Advertorial

Didampingi PT Berau Coal, Batik Mosho Khas Berau Tembus Omzet Puluhan Juta Rupiah

Kaltim Today
31 Juli 2026 14:08
Didampingi PT Berau Coal, Batik Mosho Khas Berau Tembus Omzet Puluhan Juta Rupiah
Produk kain Batik Mosho saat dipamerkan dalam ajang galeri busana di luar daerah. PT Berau Coal mendampingi pengembangan UMKM Batik Mosho dalam memperluas pasar dan meningkatkan kapasitas produksi batik khas Berau. (Istimewa)

Kaltimtoday.co, Berau - Komitmen PT Berau Coal dalam memperkuat sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) lokal terus membuahkan hasil positif. Melalui pendampingan yang berkelanjutan, UMKM Batik Mosho berhasil mengerek kapasitas produksi, memperluas jangkauan pasar, hingga melahirkan puluhan pembatik baru di Kabupaten Berau.

Pemilik Galeri Batik Mosho, Muhammad Shodiq, menceritakan bahwa usahanya dirintis sejak 2018 berbekal modal awal Rp500 ribu dan peralatan sederhana pascamenjuarai Lomba Cipta Motif Batik Kabupaten Berau. Bermodalkan keilmuan dari Sekolah Tinggi Teknologi Tekstil Bandung, ia mempopulerkan motif Penyu Pandurata—perpaduan ikon penyu Berau dan anggrek hitam khas Kalimantan Timur.

Kemitraan bersama PT Berau Coal dimulai pada 2021 melalui penyaluran bantuan alat cap batik dan bak pencelupan kain. Bantuan teknis ini terbukti memangkas durasi produksi sekaligus mendongkrak kapasitas cetak kain secara signifikan.

Tak hanya memperkuat infrastruktur produksi, PT Berau Coal turut memfasilitasi pemasaran produk melalui Rumah Kemas Batiwakkal serta mengikutsertakan Batik Mosho dalam berbagai pameran galeri di tingkat daerah maupun nasional.

"Setelah mendapatkan pendampingan, produksi kami menjadi lebih cepat dan penjualan terus meningkat. Kami juga sering diberi kesempatan mengikuti pameran sebagai salah satu cara mengenalkan batik khas Berau ke masyarakat yang lebih luas," ujar Shodiq.

Kemitraan tersebut berkembang menjadi program pelatihan membatik terstruktur di enam kampung binaan PT Berau Coal, yakni Gunung Panjang, Rinding, Teluk Bayur, Labanan Jaya, Labanan Makarti, dan Maluang.

Saat ini, Batik Mosho telah mempekerjakan lima karyawan tetap dan memberdayakan hingga 25 tenaga kerja borongan saat puncak pesanan. Sebagian besar pembatik tersebut merupakan warga lokal lulusan program pelatihan di kampung binaan perusahaan.

Batik Mosho kini mengantongi omzet berkisar antara Rp30 juta hingga Rp60 juta per bulan, dengan alokasi kebutuhan modal produksi sekitar Rp15 juta setiap bulannya. Shodiq berharap sinergi bersama pemda dan PT Berau Coal terus berlanjut agar UMKM lokal semakin berdaya saing.

Community Development Manager PT Berau Coal, Reza Hermawan, menegaskan komitmen perusahaan untuk memberikan pendampingan holistik bagi pelaku UMKM di Bumi Batiwakkal.

"Kami ingin UMKM di Kabupaten Berau tidak hanya bertahan, tetapi juga terus berkembang. Karena itu, pendampingan yang kami berikan tidak hanya berupa bantuan sarana, tetapi juga pelatihan, promosi, dan membuka peluang agar produknya semakin dikenal. Batik Mosho menjadi salah satu contoh UMKM yang berhasil berkembang melalui proses tersebut," jelas Reza Hermawan.

Melalui pendampingan intensif tersebut, Batik Mosho konsisten mencetak prestasi di tingkat regional dan nasional. Usaha ini berhasil menyabet Juara I Dekranasda Kaltim Award 2021, Juara III pada 2022, konsisten mempertahankan predikat pemenang hingga 2024, serta merengkuh Juara I Kategori Fashion dalam ajang Tjipta UMKM 2025. 

[RWT | ADV] 



Berita Lainnya