Ekonomi dan Bisnis
IHSG Anjlok Tajam Tinggalkan Level 6.000, Analis: Investor Pertanyakan Kredibilitas Kebijakan Ekonomi Indonesia
Kaltimtoday.co - Pasar modal Indonesia sedang mengalami tekanan yang sangat berat. Pada perdagangan Rabu (3/6/2026) kemarin, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup merosot tajam sebesar 4,11 persen atau anjlok 254,36 poin ke level 5.941,07. Penurunan ini membuat IHSG terlempar dari level psikologis 6.000.
Bukan cuma IHSG, indeks LQ45 yang berisi saham-saham unggulan juga ikut rontok sebesar 4,89 persen ke posisi 588,99. Jatuhnya pasar saham ini dipicu oleh meningkatnya rasa khawatir para investor terhadap tata kelola dan kepastian kebijakan ekonomi di Indonesia.
Head of Research Kiwoom Sekuritas, Liza Camelia Suryanata, menilai perhatian para investor global saat ini tidak lagi melihat seberapa besar ekonomi Indonesia bisa tumbuh, melainkan lebih fokus pada tingkat kepercayaan terhadap arah kebijakan pemerintah.
"Pasar saat ini tidak lagi mempertanyakan kemampuan Indonesia untuk tumbuh, melainkan mempertanyakan kredibilitas Indonesia," kata Liza kepada wartawan.
Menurut Liza, ada beberapa faktor utama yang membuat para investor khawatir dan memilih keluar dari pasar saham Indonesia, di antaranya:
- Munculnya penilaian buruk (outlook negatif) untuk Indonesia dari lembaga pemeringkat internasional seperti Moody’s dan Fitch Ratings.
- Nilai tukar rupiah yang terus melemah hingga hampir menyentuh Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS).
- Menyusutnya jumlah kelompok kelas menengah di Indonesia yang selama ini menjadi penggerak utama konsumsi masyarakat.
- Terjadinya aksi jual dan kaburnya dana investor asing secara terus-menerus (foreign outflow).
Investor Global Hanya Kurangi Saham di Indonesia
Kondisi ini membuat pasar mulai memperlakukan Indonesia berbeda dengan negara-negara berkembang lainnya. Berdasarkan data, dana kelolaan luar negeri khusus Indonesia atau Indonesia ETF (EIDO) mencatat kerugian hingga 28,6 persen sejak awal 2025.
Padahal di sisi lain, pasar saham negara berkembang secara umum justru naik 64,6 persen, Vietnam tumbuh 63,2 persen, Taiwan melesat 107,2 persen, dan Amerika Serikat naik 30,9 persen.
"Dengan kata lain, investor global tidak sedang meninggalkan pasar negara berkembang (emerging markets), tetapi mereka secara spesifik sedang mengurangi investasi terhadap Indonesia," jelas Liza.
Dalam waktu dekat, pasar modal Indonesia akan menghadapi ujian berat berikutnya. Beberapa lembaga indeks global seperti MSCI dan FTSE Russell dijadwalkan akan melakukan peninjauan ulang status pasar modal Indonesia pada pertengahan Juni ini.
Meskipun dihujani banyak sentimen negatif dalam enam bulan terakhir, Indonesia sebenarnya masih mempertahankan status layak investasi (investment grade). Lembaga pemeringkat S&P juga masih memberikan penilaian yang stabil untuk Indonesia.
Liza menilai, sebagian besar risiko yang ditakuti oleh investor sebenarnya masih berupa potensi dan belum benar-benar terjadi secara total. Namun, sikap pemerintah di lapangan yang kerap mengeluarkan kebijakan mendadak menjadi pemicu kepanikan pasar.
"Masalahnya, kebijakan Indonesia yang tidak bijak suka muncul tiba-tiba secara misterius, dan sering kali malah memberikan pukulan baru bagi pasar," ungkapnya.
Ratusan Saham Berguguran
Berdasarkan data perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI), sepanjang hari kemarin IHSG bergerak sangat labil di rentang 5.842,00 hingga 6.213,80. Nilai transaksi harian tercatat sangat besar mencapai Rp25,23 triliun dengan perputaran 40,11 miliar lembar saham.
Kondisi pasar kemarin didominasi oleh warna merah, di mana sebanyak 692 saham melemah, hanya 69 saham yang menguat, dan 54 saham stagnan atau tidak berubah. Secara sektoral, penurunan paling parah dialami oleh sektor bahan baku yang ambles 9,05 persen, disusul sektor energi yang turun 5,61 persen.
Di tengah kejatuhan pasar, saham PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) menjadi salah satu penahan beban terdalam setelah anjlok maksimal hingga 15,00 persen. Sebaliknya, saham PT WEHA Transportasi Indonesia Tbk (WEHA) justru berhasil melesat sendirian dengan kenaikan tajam sebesar 34,68 persen.
[RWT]
Related Posts
- Belajar dari Krisis 1998, Ini Strategi Baru Bank Indonesia Jaga Rupiah Tanpa Kuras Likuiditas
- Tepis Indonesia Kolaps terkait Pelemahan Rupiah, Prabowo: Rakyat Desa Tak Pakai Dolar
- Kadin Kukar dan PT Tunggang Parangan Sepakat Kelola Potensi Bisnis Bersama demi Kerek PAD
- Rupiah Tembus Rp 17.500 per Dolar AS, Penukaran Uang Mulai Dipadati Warga
- Menkeu Purbaya Optimistis Pertumbuhan Ekonomi Dekati 6 Persen: 3 Tahun Lagi Kita Kaya Bareng









