PEMKAB BERAU

Jadi Percontohan Kaltim, Berau bakal Kembangkan Kemiri Sunan untuk Revegetasi Pascatambang

Kaltim Today
22 Juli 2026 12:58
Jadi Percontohan Kaltim, Berau bakal Kembangkan Kemiri Sunan untuk Revegetasi Pascatambang
Suasana diskusi antara Pemda Berau, perwakilan perusahaan pertambangan dengan rombongangan utusan Presiden Seychelles untuk ASEAN. (Miko/Kaltimtoday.co)

Kaltimtoday.co, Berau - Utusan Presiden Seychelles untuk ASEAN menargetkan Berau menjadi daerah percontohan di Kalimantan Timur dalam pengembangan potensi tanaman kemiri sunan. Langkah ini digagas sebagai solusi inovatif rehabilitasi serta revegetasi lahan kritis bekas aktivitas pertambangan batu bara.

Rencana strategis tersebut dibahas dalam ruang diskusi antara Pemkab Berau, perwakilan korporasi pertambangan, dan utusan diplomatik di Ruang Rapat Sangalaki Sekretariat Daerah Berau, Selasa (21/7/2026). 

Utusan Presiden Seychelles untuk ASEAN, Nico Barito, memaparkan bahwa tanaman bernama latin Reutealis trispermatersebut memiliki daya tahan tinggi dan sangat cocok untuk vegetasi area pascatambang. Tanaman ini diklaim tidak membutuhkan pasokan air yang banyak sehingga ideal tumbuh di lahan kritis serta memiliki tajuk yang rimbun.

“Berdasarkan catatan Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Aneka Tanaman Industri, endosperma biji tanaman ini mengandung minyak yang dapat diproses menjadi minyak pengganti solar atau biodiesel,” ujar Nico Barito menjelaskan keunggulan teknis tanaman tersebut.

Menurut Nico, multimanfaat ekologis dan ekonomis tersebut sangat relevan dikembangkan di Berau. Kabupaten ini dikenal memiliki objek wisata alam yang melimpah sekaligus menghadapi tantangan pembukaan lahan kritis yang cukup luas.

“Sehingga selain memberi manfaat ekologis, juga ke depan kita ingin ada manfaat dari segi ekonomi baik untuk daerah maupun masyarakat,” tambah Nico.

Menanggapi paparan tersebut, Wakil Bupati Berau, Gamalis, menyambut positif skema pengembangan tanaman industri tersebut. Investasi hijau ini dinilai mampu berjalan selaras antara pemulihan fungsi lingkungan hidup dan penciptaan sumber pertumbuhan ekonomi baru.

Dari kalkulasi teknis, satu hektar lahan dapat ditanami sekitar 150 pohon kemiri sunan dengan potensi produksi mencapai 20 ton biji per tahun. Biji tersebut diproyeksikan mampu menghasilkan hingga 7.750 liter biodiesel dan 1.050 liter gliserol per hektar per tahun, dengan usia produktif tanaman membentang dari 4 hingga 75 tahun.

Meski menyimpan potensi besar, Gamalis menegaskan bahwa implementasinya di lapangan tetap menghadapi tantangan, terutama menyangkut kesiapan dan status hukum lahan eks tambang. Ada beberapa regulasi teknis yang harus dikaji secara cermat sebelum utilisasi lahan dilakukan secara masif.

“Contohnya adalah pemanfaatan lahan dengan skala besar, kita lihat lagi dengan regulasi yang ada. Apakah diperbolehkan melakukan penanaman di kawasan yang masih terdapat aktivitas operasional di sekitarnya,” jelas Gamalis memberikan catatan kritis.

Gamalis berharap seluruh perusahaan pertambangan yang beroperasi di Bumi Batiwakkal dapat memandang komoditas kemiri sunan ini sebagai peluang wujud komitmen penerapan asas good mining practice, sekaligus bentuk nyata Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) perusahaan kepada masyarakat setempat. 

[RWT | ADV PEMKAB BERAU] 



Berita Lainnya