Nasional
Konten Mindfulness Dicap 'Tak Napak Tanah' di Tengah Rentetan Bencana, Maudy Ayunda Sampaikan Permohonan Maaf
Kaltimtoday.co - Aktris dan penyanyi Maudy Ayunda menyampaikan permohonan maaf secara terbuka menyusul gelombang kritik warganet di media sosial X, Threads, dan YouTube. Sorotan publik mencuat setelah Maudy mengunggah video refleksi mengenai tips menjaga kesehatan mental dan tetap waras di tengah derasnya kabar buruk yang melanda tanah air belakangan ini.
Dalam konten tersebut, Maudy membagikan perspektifnya mengenai upaya menjaga kestabilan pikiran saat dihadapkan pada isu karhutla, bencana alam, kelangkaan BBM, krisis air, hingga dinamika ekonomi dan kebijakan publik.
Namun, konten tersebut memicu polemik luas karena dinilai tidak peka (tone deaf) terhadap realitas sosial masyarakat. Sejumlah warganet menilai Maudy memposisikan penderitaan nyata warga, seperti kabut asap ekstrem di Kalimantan, krisis energi, hingga korban dugaan keracunan makanan bergizi gratis (MBG), sekadar sebagai "kabar buruk" di layar kaca yang bisa dihindari demi ketenangan batin, bukan ancaman fisik yang dihadapi langsung di lapangan. Visual video yang menampilkan rutinitas menyiapkan makanan sehat nan nyaman kian memantik reaksi negatif publik.
Merespons kritik tersebut, Maudy merilis klarifikasi dan mengakui bahwa sudut pandangnya dalam video sebelumnya luput memperhitungkan aspek kesenjangan realitas serta hak istimewa (privilege).
"Kemampuan untuk menjauh sejenak dari berita adalah sebuah privilese tersendiri (being able to step away from the news is itself a privilege). Tidak semua orang punya pilihan itu, terutama ketika apa yang terjadi berdampak langsung pada kehidupan, keluarga, pekerjaan, atau komunitasnya. Aku minta maaf karena bagian ini belum cukup aku refleksikan di videonya," tutur Maudy.
Maudy menyadari beratnya situasi yang dihadapi masyarakat akibat rentetan bencana lingkungan dan dampak kebijakan sosial. Ia menegaskan konsep mindfulness yang diusungnya bukan ditujukan untuk bersikap abai terhadap persoalan kemanusiaan maupun menutup mata dari kenyataan.
Menutup pernyataannya, Maudy berterima kasih atas evaluasi publik dan menjadikan gelombang kritik tersebut sebagai ruang pembelajaran untuk memperluas perspektif sosialnya ke depan.
[RWT]








