Daerah

Bisakah Transisi Energi Jadi Budaya Populer di Kaltim?

Alisa Deliana — Kaltim Today 30 Mei 2026 06:50
Bisakah Transisi Energi Jadi Budaya Populer di Kaltim?
Poster podcast green zetizen.

Kaltimtoday.co, Samarinda - Di tengah hiruk-pikuk kebijakan transisi energi yang didominasi oleh data saintifik dan kepentingan ekonomi, sebuah perspektif berbeda muncul dari ruang seni dan sastra. 

Rahmat Azazi, pendiri Tirtonegoro Foundation, menegaskan bahwa transisi energi di Kalimantan Timur (Kaltim) tidak akan pernah mencapai "keadilan" yang hakiki jika mengesampingkan identitas budaya dan ekspresi seni masyarakat lokal.

Dalam podcast terbaru Green Zizen, Azazi menyoroti bagaimana industri ekstraktif selama puluhan tahun telah meninggalkan luka yang tidak hanya merusak ekologi, tetapi juga mengikis memori kolektif dan jati diri masyarakat Kaltim.

Azazi menjelaskan bahwa data dan bahasa kebijakan seringkali sulit dipahami masyarakat alih-alih seni bisa menjadi jembatan untuk ini.

"Di satu momen orang itu enggak butuh data, tapi butuh rasa," ungkap Azazi. 

Menurutnya, seni memiliki kekuatan untuk menyampaikan kritik secara lebih membumi dan intuitif dibandingkan sekadar tabel statistik.

Dalam hal ini  Tirtonegoro Foundation telah mendokumentasikan perubahan lanskap Kaltim melalui karya sastra seperti buku Sastra Loka yang mengangkat tema spesifik sungai, hutan, dan hantu. Penggunaan unsur "hantu" bukan sekadar mistis, melainkan representasi lokalitas kebudayaan untuk melihat ekosistem secara holistik yang sering kali dianggap tidak relevan oleh pemikiran modern.

Salah satu contoh nyata penggunaan seni sebagai alat rekam ekologis adalah pertunjukan kontemporer "Nyawa Alak Nyawa Angkit" yang dipentaskan di Berau. Karya ini menggambarkan gesekan antara masyarakat adat dengan bunyi mesin industri, kebijakan yang timpang, hingga keserakahan pemimpin yang berujung pada kehancuran alam.

"Fakta memang dibutuhkan, tetapi seni memiliki kelebihan pada imajinasi yang kuat untuk membuka mata bahwa lingkungan kita sudah rusak," tambah Azazi. 

Dalam diskusi ini, Azazi juga memberikan kritik tajam terhadap fenomena "pop culture" dan gaya hidup kapitalis yang mulai menghilangkan ciri khas lokal. Ia mengamati pergeseran budaya pada generasi muda, mulai dari cara berpakaian hingga hilangnya ketertarikan pada makanan tradisional seperti lemang atau getas. Bagi Azazi, identitas bukan sekadar atribut, melainkan benteng integritas. 

"Fungsi identitas adalah membangun bagaimana integritas itu dibangun melalui habituasi kebudayaan," jelasnya.

Ia mencontohkan penggunaan aksesoris tradisional sebagai upaya menjaga martabat individu dan daerah di tengah disrupsi politik dan kerusakan ekologis. 

Tak hanya itu, ia juga menyinggung ketimpangan distribusi kekayaan alam di Kaltim. Dirinya mencontohkan kondisi di Kutai Barat (Kubar) yang dieksploitasi konsesi tambang batu bara namun infrastruktur jalan tetap rusak parah. 

"Apa yang kembali ke Kutai Barat? Jalannya (hancur). Padahal itu jalur nasional, seharusnya ada integrasi birokrasi yang serius untuk memikirkan rakyat," tegasnya.

Ia juga menyayangkan adanya oknum pemerintah yang mencoba membatasi ekspresi seni yang bernada kritik. Menurut Azazi, pemimpin yang takut dikritik melalui seni menunjukkan bahwa mereka belum "selesai" dengan diri sendiri dan kekuasaannya.

"Seni itu mensejajarkan kita semua... orang yang membatasi ekspresi seni biasanya karena mereka tidak paham perspektif seni dan takut digulingkan," tuturnya. 

Sebagai solusi praktis, Tirtonegoro Foundation mengusulkan inovasi literasi di ruang publik, seperti di Teras Samarinda atau Citra Niaga. Azazi merekomendasikan penggunaan kode batang (QR Code) yang memungkinkan pengunjung mengakses sejarah tempat tersebut secara instan melalui ponsel mereka.

Dengan cara ini, masyarakat tidak hanya sekadar nongkrong, tetapi juga dapat belajar sejarah transportasi sungai (tambangan), foto tempo dulu, hingga cerita rakyat yang membentuk identitas Samarinda dan Kaltim saat ini.

Di Akhir Azazi mendorong para seniman lokal untuk terus menyuarakan kebenaran demi menjaga keseimbangan alam dan manusia, karena baginya, keserakahan manusia adalah akar dari bencana alam yang terjadi saat ini.

Simak diskusi selengkapnya di YouTube Kaltim Today! 



Berita Lainnya