Kaltim

Cerita Pelajar Samarinda Jalani Puasa Ramadan di North Carolina, 12 Jam di Tengah Musim Dingin

Kaltim Today
19 Maret 2026 12:03
Cerita Pelajar Samarinda Jalani Puasa Ramadan di North Carolina, 12 Jam di Tengah Musim Dingin
Fakhri Riezky Mohammad, pelajar asal Samarinda, Kalimantan Timur, berpose dengan bendera Merah Putih berlatar belakang Patung Liberty dan skyline Kota New York, Amerika Serikat.

Kaltimtoday.co - Pelajar asal Samarinda, Kalimantan Timur, Fakhri Riezky Mohammad, membagikan pengalamannya menjalankan ibadah puasa Ramadan 1447 H di Sanford, North Carolina, Amerika Serikat. Fakhri saat ini sedang menetap di AS dalam rangka program beasiswa pertukaran pelajar Kennedy-Lugar Youth Exchange and Study (KL-YES).

Berjarak sekitar 14.972 kilometer dari tanah air, Fakhri merasakan atmosfer Ramadan yang berbeda. Mengingat Ramadan tahun 2026 jatuh pada musim dingin di bumi bagian utara, durasi puasa yang dijalani Fakhri relatif lebih singkat dibandingkan musim lainnya.

"Karena saya berada di North Carolina dan bulan Ramadan di tahun 2026 ada di musim dingin, maka saya berpuasa selama kurang lebih 12 jam dalam satu hari," ujar Fakhri.

Minimnya kumandang azan dan keberadaan masjid di lingkungan tempat tinggalnya menuntut Fakhri untuk lebih adaptif. Ia mengandalkan teknologi dan aplikasi informasi jadwal ibadah untuk memantau waktu sahur, imsak, hingga berbuka puasa.

Untuk urusan konsumsi, Fakhri mengaku kerap menyiapkan menu sahur bergizi secara mandiri. Sementara saat waktu berbuka atau iftar, ia biasanya menyantap hidangan lokal bersama keluarga angkat (host family) atau memesan makanan halal secara daring.

“Sahurku selalu diisi dengan menu bergizi sederhana buatan sendiri seperti oat dan yogurt. Sedangkan untuk berbuka, saya biasanya menyantap menu makan malam, western delicacies, bersama host family,” katanya.

Terkait ketersediaan bahan makanan halal, pelajar SMA ini mengaku tidak menemui kendala berarti. Berbagai jaringan ritel besar di Amerika Serikat tetap menyediakan bahan makanan yang memenuhi standar halal untuk kebutuhan komunitas muslim.

Meski jauh dari keluarga, Fakhri tetap merasakan kehangatan persaudaraan melalui komunitas muslim setempat. Baru-baru ini, ia mengikuti kegiatan buka puasa bersama di Sanford Islamic Center yang memberikan nuansa serupa dengan suasana di Indonesia.

"Kami beribadah dan menyantap makanan bersama, mengingatkanku pada suasana hangat rumah, hanya saja dengan orang dan tempat yang sama sekali berbeda," ungkapnya.

Baginya, menjalankan Ramadan di luar negeri bukan sekadar kewajiban ibadah, melainkan kesempatan untuk memperkenalkan budaya Indonesia di tengah keberagaman ras dan kepercayaan di Amerika Serikat. Dukungan positif dari lingkungan sekitar membuatnya tetap nyaman meski jauh dari rumah.

"Saya percaya, untuk berada dan tumbuh sendiri jauh dari keluarga dan rumah, adalah untuk berani membawa budaya dan kisah autentik diriku ke luasnya dunia," pungkas Fakhri.

[TOS]



Berita Lainnya