Nasional

Hari Anak Nasional 2026, UNICEF Soroti Tantangan Kekerasan pada Anak di Indonesia

Kaltim Today
22 Juli 2026 19:19
Hari Anak Nasional 2026, UNICEF Soroti Tantangan Kekerasan pada Anak di Indonesia
Perwakilan UNICEF Indonesia, Maniza Zaman (keempat dari kanan), berinteraksi dengan anak-anak saat mengunjungi Pusat PAUD Bilelog, Nusa Tenggara Timur, 29 Juli 2025. (UNICEF Indonesia)

JAKARTA, Kaltimtoday.co - UNICEF menyambut baik peluncuran Gerakan Nasional Ruang Aman dan Nyaman Anak (Gernas RANA) yang diinisiasi oleh Pemerintah Indonesia pada peringatan Hari Anak Nasional 2026, Kamis (23/7/2026). Inisiatif ini dinilai penting untuk melindungi anak dari kekerasan di berbagai lingkungan tempat mereka tumbuh.

Perwakilan UNICEF untuk Indonesia, Maniza Zaman, mengapresiasi komitmen serta kepemimpinan Pemerintah Indonesia dalam memajukan hak dan kesejahteraan anak. Kemajuan signifikan dinilai telah dicapai melalui penguatan undang-undang, perluasan layanan, serta penempatan perlindungan anak sebagai prioritas nasional.

"Pada Hari Anak Nasional, kita merayakan hak setiap anak untuk tumbuh dalam keadaan aman, dihormati, dan didukung," ujar Maniza Zaman dalam keterangan resminya.

Maniza menyampaikan bahwa Gernas RANA mengakui perlindungan anak dari kekerasan tidak hanya membutuhkan regulasi dan layanan yang kuat. Langkah ini juga memerlukan lingkungan yang mendukung di tempat anak tinggal, belajar, bermain, hingga berinteraksi secara daring.

Meski demikian, UNICEF mencatat sejumlah tantangan besar yang masih dihadapi anak-anak di Indonesia saat ini. Berdasarkan Survei Nasional Pengalaman Hidup Anak dan Remaja (SNPHAR) 2024 dari Kementerian PPPA, lebih dari separuh anak berusia 13 hingga 17 tahun di Indonesia pernah mengalami setidaknya satu bentuk kekerasan.

Banyak anak dilaporkan mengalami kekerasan di lokasi yang seharusnya menjadi tempat paling aman bagi mereka. Tindakan kekerasan tersebut marak terjadi di rumah, sekolah, serta semakin sering ditemui di ruang digital.

Ketika UNICEF menanyakan makna ruang aman kepada anak-anak dan kaum muda, mereka menekankan pentingnya dua hal utama. Hal tersebut yakni merasa aman dari kekerasan dan bahaya, serta merasa diterima, didengarkan, dan dipercaya.

"Inilah alasan mengapa ruang aman sangat penting. Mewujudkan dunia yang lebih aman bagi anak-anak memerlukan lebih dari sekadar sistem dan layanan. Hal tersebut juga memerlukan hubungan yang saling mendukung dan lingkungan tempat anak-anak merasa aman, dihargai, dan didengarkan," kata Maniza.

Ia menambahkan bahwa seluruh elemen masyarakat memiliki peran krusial dalam menciptakan lingkungan yang kondusif bagi anak. Orang tua, pengasuh, guru, tenaga kesehatan, tokoh agama, hingga sesama kaum muda diimbau untuk bersama-sama menciptakan ruang yang membuat setiap anak merasa didukung dan dihormati.

[TOS]



Berita Lainnya