Daerah
DPD PDIP Kaltim Jaring Desainer Terbaik Lewat Penjurian Fatmawati Trophy 2026
Kaltimtoday.co, Samarinda - Melalui penjurian Fatmawati Trophy 2026, DPD PDI Perjuangan Kalimantan Timur tengah melakukan penjaringan desainer terbaik dalam kompetisi desain kebaya dan kerudung yang diselenggarakan secara nasional dalam rangka memperingati 103 Tahun Kelahiran Ibu Bangsa Fatmawati Soekarno.
Ajang ini menjadi ruang bagi para desainer daerah untuk menampilkan kreativitas sekaligus mengangkat nilai-nilai budaya Indonesia melalui karya busana.
Proses penjurian dilaksanakan secara tertutup dengan menghadirkan dewan juri yang terdiri dari fashion designer, pemerhati budaya, dan pengurus DPD PDI Perjuangan Kalimantan Timur.
Mekanisme tersebut dilakukan untuk memastikan penilaian berlangsung objektif, profesional, dan independen dalam menentukan karya terbaik yang akan mewakili Kalimantan Timur ke tingkat berikutnya.
Sebanyak delapan finalis dari berbagai kabupaten dan kota mengikuti tahapan penjurian, yakni Rahmad Hidayat, Lasmi, dan Wastiti Arum Handini dari DPC Samarinda, Dede Muliana dan Fitria Lailatul Rohmah dari DPC Paser, Risa Astuti dari DPC Penajam Paser Utara, Yusinudya Rohman dari DPC Kutai Timur, serta Friska Novina dari DPC Kutai Barat.
Sekretaris DPD PDIP Kaltim, Ananda Emira Moeis mengapresiasi para desainer berbakat yang mengikuti kompetisi tersebut, dan menampilkan beragam desain kebaya yang menarik perhatian dewan juri.
"Kami ingin ada wadah bagi mereka para desainer, menunjukan potensinya dalam membuat sebuah karya wastra yang bisa mengharumkan daerah," sebutnya pada Rabu (17/06/2026).
Dari delapan desainer yang ikut serta, nantinya akan dipilih tiga desainer terbaik, yang berkesempatan untuk mengikuti ajang kompetisi di tingkat nasional.
Ananda mengatakan banyak sekali potensi batik Kalimantan Timur yang bisa diangkat. Setiap daerah memiliki ciri yang berbeda-beda, dan mampu bersaing di tingkat nasional.
"Ada yang berasal dari pesisir, ada dari pedalaman, ada juga yang terinspirasi dari keraton. Kami juga akhirnya belajar banyak tadi," imbuhnya.
Disamping itu, Fashion Designer Anas Maghfur menyampaikan bahwa ajang ini menjadi ruang bagi para desainer daerah untuk menunjukkan kreativitas mereka dalam merancang kebaya dan kerudung yang terinspirasi dari sosok Fatmawati sebagai penjahit pertama Bendera Merah Putih.
Anas menjelaskan, penilaian dilakukan berdasarkan aspek inovasi, kreativitas, originalitas, dan kualitas desain. Para peserta juga didorong untuk menghadirkan kebaya yang lebih modern tanpa meninggalkan identitas budaya daerah melalui pemanfaatan wastra khas Kalimantan Timur seperti tenun dan batik.
“Ini kali pertama diselenggarakan dan kita memang melihat potensi-potensi para desainer di Kalimantan Timur mulai bermunculan. Bagaimana kebaya itu tidak terkesan selalu terlihat kuno, tetapi bisa tampil modern dan tetap mengangkat kearifan lokal dengan wastra-wastra yang ada di Kalimantan Timur," tutup Anas.
[RWT]
Related Posts
- Irit Bicara dan Hindari Wawancara ke Media, TAGUPP: Rakyat Butuh Informasi Langsung dari Gubernur Rudy Mas'ud
- Gempa M 6,7 Guncang Sulawesi Tengah, BMKG: Dipicu Aktivitas Sesar Palolo dan Tak Berpotensi Tsunami
- Diskominfo Kaltim Siapkan Langkah ke Dewan Pers, Soroti Media yang Langgar Kode Etik Demi Viralitas
- Sudarno Kecewa Materi Pandji Tak Banyak Bahas Kaltim, Tegaskan Seniman Bebas Bersuara
- BPOM Samarinda Minta Warga Cek KLIK dan Aplikasi Mobile Sebelum Beli Produk









