Nasional

Perkuat Ketahanan Pangan dan Iklim, FAO-UN Women Luncurkan Tahun Petani Perempuan di Labuan Bajo

Kaltim Today
08 Mei 2026 20:29
Perkuat Ketahanan Pangan dan Iklim, FAO-UN Women Luncurkan Tahun Petani Perempuan di Labuan Bajo
Anggota APIR bersama perwakilan pemerintah, UN Women, dan FAO setelah dialog kebijakan, 7 Mei 2026. Photo: FAO/Ardila Syakriah

Kaltimtoday.co - Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO) bersama UN Women resmi memulai kampanye "Tahun Petani Perempuan" (International Year of the Women Farmer) 2026 di Indonesia. Inisiatif ini diawali dengan rangkaian pelatihan dan dialog kebijakan di Labuan Bajo, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, Kamis (7/5/2026).

Kampanye global ini bertujuan untuk menyoroti kesenjangan gender di sektor pertanian sekaligus mendorong kepemimpinan perempuan dalam menghadapi perubahan iklim. Berdasarkan data FAO, perempuan mencakup 41 persen tenaga kerja pertanian global, namun seringkali menghadapi ketidaksetaraan akses terhadap lahan, teknologi, dan pendanaan.

"Memberdayakan petani perempuan berarti memberdayakan komunitas. Pengetahuan dan aksi berbasis komunitas yang mereka lakukan sangat penting dalam mengatasi perubahan iklim dan ketahanan pangan," ujar Ulziisuren Jamsran, Perwakilan UN Women Indonesia.

Di Indonesia, data BPS mencatat ada sekitar 14,81 juta perempuan yang bekerja di sektor pertanian. Namun, mereka masih mengalami kendala dalam beradaptasi terhadap dampak iklim yang ekstrem. Laporan FAO menunjukkan bahwa kenaikan suhu global berdampak lebih parah secara finansial terhadap rumah tangga yang dikepalai perempuan dibandingkan laki-laki.

"Dampak perubahan iklim tidak bersifat netral gender. Ketika kita menutup kesenjangan gender dan berinvestasi pada perempuan, semua pihak akan merasakan manfaatnya," tambah Rajendra Aryal, Perwakilan FAO untuk Indonesia dan Timor Leste.

Dalam kegiatan di Manggarai Barat, sebanyak 25 petani perempuan dibekali keterampilan pertanian berkelanjutan, literasi keuangan, hingga teknik pemasaran bernilai tambah. Dialog kebijakan yang digelar juga mendesak pemerintah daerah untuk lebih melibatkan perempuan dalam proses pengambilan keputusan terkait kedaulatan pangan dan regulasi cerdas iklim.

Siti Sadyatun, Ketua Aliansi Perempuan Indonesia Mandiri (APIR) Manggarai Barat, mengungkapkan pentingnya akses informasi bagi mereka. "Sebagai perempuan, kami sangat membutuhkan pengetahuan praktis tentang langkah konkret yang dapat kami lakukan untuk memitigasi dan beradaptasi terhadap perubahan iklim," tuturnya.

Menutup kesenjangan gender di sektor ini diperkirakan dapat meningkatkan PDB global hingga 1 triliun dolar AS dan mengurangi kerawanan pangan bagi 45 juta orang. Tahun Internasional Petani Perempuan 2026 diharapkan menjadi momentum nasional untuk mengakui petani perempuan sebagai aktor kunci dalam ketahanan pangan dan kesejahteraan pedesaan Indonesia.

[TOS]



Berita Lainnya