Daerah
Sepatu Kekecilan Berujung Duka Pelajar SMK di Samarinda, Disdikbud Kaltim Soroti Minimnya Komunikasi
Kaltimtoday.co, Samarinda - Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kaltim memberikan atensi serius usai kasus meninggalnya siswa kelas 11 SMKN 4 Samarinda. Mandala terpaksa memakai sepatu sempit, di tengah ketidakmampuan perekonomian keluarga.
Kronologi singkatnya, Mandala sempat sakit dan nyeri pada kaki nya, yang kemudian menjalar hingga ke pinggang dan punggung. Kondisi kaki Mandala sempat bengkak, akibat sepatu yang kekecilan tersebut.
Ia sempat mendapatkan penanganan awal, berupa suntikan untuk meredakan sakitnya. Kondisinya sempat membaik, namun selang beberapa waktu ia menghembuskan nafas terakhir di kediamannya.
Plt. Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kaltim, Armin menegaskan bahwa persoalan sederhana seperti kekurangan perlengkapan sekolah seharusnya dapat diatasi melalui komunikasi yang baik antara siswa, orang tua, dan pihak sekolah.
“Kalau sepatunya kekecilan atau tidak punya, mestinya disampaikan. Sampaikan ke sekolah, sampaikan ke orang tua. Kita ini punya berbagai sumber bantuan, seperti dana PIP, BOSDA, dan BOSNAS. Kalau hanya satu atau dua anak, seharusnya bisa kita bantu,” ujarnya pada Sabtu (2/5/2026).
Armin menyayangkan jika ada siswa yang sampai tidak bersekolah hanya karena persoalan perlengkapan dasar seperti sepatu atau pakaian.
“Sayang sekali kalau hanya gara-gara sepatu atau baju, anak jadi tidak sekolah. Baik itu kelas 10, kelas 11, atau kelas 12, pasti kita bantu. Kalau sekolah tidak bisa membantu, datang ke dinas, saya siap bantu,” tegasnya.
Menurutnya, kunci utama dalam menangani persoalan tersebut adalah komunikasi yang terbuka.
“Yang penting komunikasinya. Orang tua harus menyampaikan ke sekolah. Jangan sampai persoalan seperti ini malah dibesar-besarkan tanpa ada upaya komunikasi. Kalau ada anak kesulitan, angkat saja, sampaikan, pasti kita bantu,” katanya.
Ia juga menekankan bahwa sekolah memiliki sumber dana yang dapat dimanfaatkan untuk membantu siswa yang membutuhkan. Ke depan, Armin meminta seluruh sekolah lebih proaktif dalam mengetahui kondisi siswa, termasuk melalui peran guru bimbingan konseling (BK) dan wali kelas.
“Sekolah harus benar-benar tahu kondisi anak-anaknya. Itu tugas guru BK dan wali kelas. Mereka harus tahu apakah ada siswa yang mengalami kesulitan,” jelasnya.
Kendati begitu, ia menambahkan bahwa sekolah seharusnya menjadi tempat yang nyaman bagi siswa untuk berbagi masalah yang dihadapi dan bisa dicarikan solusinya.
“Sekolah itu harus menjadi ‘second home’ bagi anak. Harus nyaman, sehingga mereka bisa curhat kepada guru atau pihak sekolah. Kalau sudah terbuka, persoalan seperti ini bisa cepat ditangani, bahkan sampai ke dinas kalau diperlukan,” pungkasnya.
[RWT]
Related Posts
- Hadapi Tantangan PHK, DPRD Dorong Disnaker Perluas Akses Lowongan Kerja
- Pekerjaan Fisik Rampung, Komisi III DPRD Samarinda Desak Teras Samarinda Segera Dibuka
- Jelang Porprov VIII Kaltim, Komisi IV DPRD Samarinda Desak Kepastian Dana Atlet
- Pulau Kedindingan, ‘’Benteng Terakhir’’ Bontang yang Dipertaruhkan
- Waspada Cuaca Ekstrem! BMKG Rilis Peringatan Dini Hujan di Sejumlah Kota Besar









