Teknologi
Survei Microsoft: Vietnam Pimpin Asia Tenggara dalam Adopsi AI di Dunia Kerja
Kaltimtoday.co - Vietnam menjadi negara dengan proporsi pekerja yang tergolong sebagai AI-forward professionals atau profesional yang mahir memanfaatkan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) tertinggi di Asia Tenggara. Temuan tersebut terungkap dalam survei terbaru yang dirilis oleh Microsoft.
Berdasarkan laporan 2026 Work Trend Index yang dirilis Microsoft pada 24 Juni 2026, sebanyak 39 persen tenaga kerja di Vietnam masuk dalam kategori profesional mahir AI tersebut. Angka pencapaian ini tercatat jauh melampaui rata-rata global yang hanya mencapai 16 persen.
Kategori AI-forward professionals sendiri merujuk pada kelompok pekerja yang mampu menggunakan AI secara efektif, serta berhasil mengintegrasikannya ke dalam aktivitas pekerjaan sehari-hari.
Pada tahun ini, Microsoft tidak merilis laporan regional, melainkan menerbitkan laporan global dengan analisis terpisah untuk sejumlah pasar, termasuk Vietnam. Laporan disusun berdasarkan data produktivitas anonim dari Microsoft 365 serta survei terhadap 2.000 pekerja berbasis pengetahuan di Vietnam.
Sebelumnya, Microsoft juga sempat merilis laporan Global AI Diffusion yang menempatkan Vietnam di peringkat kedua di Asia Tenggara dalam hal adopsi AI secara umum.
Menurut Microsoft, para pekerja yang mahir AI ini memiliki pemahaman mendalam mengenai alur kerja, mekanisme kolaborasi antara manusia dan teknologi, serta standar kualitas yang dapat didokumentasikan di berbagai tingkatan organisasi.
Kelompok pekerja ini juga berperan penting dalam membangun frontier firms, yaitu perusahaan yang mampu mengubah pengalaman individu menjadi kapabilitas organisasi secara kolektif. Melalui skema ini, pengetahuan dapat terus terakumulasi dan menciptakan keunggulan kompetitif yang berkelanjutan.
Laporan tersebut turut menunjukkan besarnya nilai tambah teknologi AI bagi para pekerja di Vietnam. Sebanyak 76 persen responden mengaku kini mampu menghasilkan pekerjaan atau capaian yang tidak mungkin dilakukan pada setahun lalu.
Di kalangan AI-forward professionals, angka produktivitas tersebut bahkan menyentuh 83 persen, atau jauh lebih tinggi dibandingkan dengan catatan rata-rata global.
Meski intens menggunakan AI, pekerja di Vietnam dinilai tidak terlalu bergantung pada teknologi tersebut. Sebanyak 89 persen responden menyatakan hasil dari AI hanya menjadi titik awal untuk proses berpikir mereka, bukan sebagai jawaban akhir.
Para pekerja terpantau tetap berperan aktif dalam mengevaluasi, menganalisis, serta mengambil tanggung jawab penuh atas keputusan yang dibuat.
Microsoft juga mencatat bahwa para profesional yang mahir menggunakan AI cenderung secara proaktif menjaga kemampuan profesional mereka. Lebih dari separuh responden mengaku tetap mengerjakan sejumlah tugas tanpa bantuan AI agar keterampilan mereka tetap terasah.
Sinyal positif lainnya datang dari tingkat kepemimpinan organisasi. Sebanyak 48 persen pemimpin perusahaan di Vietnam disebut memiliki arah yang jelas dan konsisten terkait implementasi AI, jauh di atas rata-rata global yang sebesar 26 persen.
Selain itu, satu dari tiga responden mengatakan mereka mendapatkan pengakuan atau penghargaan ketika mencoba cara-cara baru dalam memanfaatkan AI, meskipun hasilnya tidak langsung terlihat.
Namun, di balik perkembangan positif tersebut, tekanan untuk beradaptasi juga semakin besar. Empat dari lima responden di Vietnam mengaku khawatir akan tertinggal apabila tidak segera menyesuaikan diri dan menerapkan AI dalam pekerjaan mereka. Angka ini lebih tinggi dibandingkan rata-rata global yang mencapai 65 persen.
Microsoft menyebut kondisi tersebut sebagai transformation paradox, yakni ketika pekerja ingin berubah dengan cepat, tetapi sistem evaluasi, proses operasional, dan mekanisme insentif di dalam organisasi belum mampu mengikuti laju perubahan tersebut.
Managing Director Microsoft untuk pasar berkembang, Dhanawat Suthumpun, mengatakan kecepatan adopsi AI di Vietnam mencerminkan potensi besar tenaga kerja dan perekonomian negara itu dalam memanfaatkan peluang baru yang ditawarkan teknologi.
Menurut Dhanawat, teknologi tidak serta-merta menciptakan transformasi secara instan. Ketika para pekerja semakin mahir memanfaatkan AI dan mengembangkan kapabilitas baru, para pemimpin organisasi juga perlu memastikan sistem operasional dan tata kelola perusahaan ikut diperbarui.
"Organisasi yang memimpin di era AI adalah mereka yang menggunakan AI untuk membentuk kembali cara bekerja, membuka model produktivitas baru, dan menciptakan nilai lebih bagi karyawan maupun pelanggan," ujar Dhanawat.
[RWT]
Related Posts
- Apple Siapkan Fitur Edit Foto AI di iOS 27, Bisa Perluas Gambar hingga Ubah Sudut Pandang
- Migrant Watch Desak Pemerintah Kawal UU PPRT: Jangan Sampai Jadi Beban Birokrasi
- Ketua Komisi X DPR RI Hetifah Sjaifudian Dorong Generasi Muda Melek Penguatan Keamanan Data di Era Kecerdasan Artifisial
- Dua Hari Menuju Workshop Pelatihan Erlangga X Binus University: Persiapkan Guru Kaltim Kuasai Coding dan AI
- Humanoid robots show off their language and boxing skills in Hong Kong









