Opini
Isra Mi'raj dan Arsitektur Peradaban Global: Transendensi, Etika, dan Arah Baru Kemanusiaan
Oleh: Masykur Sarmian (Ketua Umum Fokal IMM Kalimantan Timur)
TULISAN ini mengkaji peristiwa Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW sebagai fondasi konseptual bagi pembacaan arah peradaban global. Dengan pendekatan reflektif-analitis dan interdisipliner, terlihat bahwa krisis global kontemporer—yang ditandai oleh disrupsi teknologi, krisis makna, dan ketimpangan sosial—bersumber dari keterputusan antara kemajuan material dan orientasi transendental. Isra Mi’raj ditawarkan sebagai paradigma peradaban yang menyatukan dimensi vertikal (nilai ilahiah) dan horizontal (tanggung jawab sosial), sehingga relevan sebagai kerangka etik bagi peradaban dunia.
Peradaban global abad ke-21 menghadapi paradoks besar: kemajuan teknologi yang pesat beriringan dengan kemerosotan etika dan krisis makna. Manusia berhasil menaklukkan ruang, waktu, dan informasi, namun gagal menjawab pertanyaan paling mendasar tentang tujuan hidup dan arah kolektif umat manusia. Dalam konteks ini, diskursus peradaban membutuhkan sumber inspirasi yang tidak hanya teknokratis, tetapi juga transendental. Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW, yang secara tradisional dipahami sebagai peristiwa spiritual, dibaca sebagai arsitektur peradaban. Ia bukan sekadar kisah keimanan, melainkan model relasi antara Tuhan, manusia, dan sejarah. Pembacaan ini menjadi penting ketika dunia membutuhkan kerangka nilai yang mampu mengarahkan kemajuan tanpa kehilangan kemanusiaan.
Dalam teori peradaban modern, kemajuan sering diukur melalui indikator horizontal: pertumbuhan ekonomi, inovasi teknologi, dan ekspansi kekuasaan. Namun, para pemikir peradaban menunjukkan bahwa peradaban runtuh bukan karena kekurangan sumber daya, melainkan karena krisis moral dan spiritual. Isra Mi’raj menghadirkan dua gerak utama: Isra (horizontal) dan Mi’raj (vertikal). Isra merepresentasikan keterhubungan sejarah, ruang, dan tanggung jawab sosial, sementara Mi’raj melambangkan orientasi nilai, transendensi, dan makna. Peradaban yang sehat mensyaratkan keseimbangan keduanya; ketika salah satu mendominasi, peradaban akan menjadi timpang.
Perjalanan Isra dari Masjidilharam ke Masjidilaqsa menegaskan kesinambungan risalah dan dialog antarperadaban. Islam diposisikan bukan sebagai peradaban yang memutus sejarah, melainkan yang mengintegrasikan warisan spiritual sebelumnya ke dalam satu visi tauhid. Dalam konteks global, pesan Isra sangat relevan bagi dunia yang terfragmentasi oleh konflik identitas. Ia menawarkan paradigma dialogis bahwa perbedaan bukan alasan dominasi, melainkan peluang kolaborasi. Peradaban global yang berkelanjutan mensyaratkan pengakuan atas kesinambungan sejarah dan penghormatan terhadap keragaman.
Mi’raj tidak dapat dilepaskan dari konteks psikologis dan sosial yang melatarbelakanginya. Sebelum peristiwa agung ini, Nabi Muhammad SAW menghadapi tekanan kehidupan yang bertubi-tubi. Pada tahun yang sama, beliau ditinggalkan wafat oleh istri tercinta, Siti Khadijah, sosok yang selama ini menjadi sandaran psikologis sekaligus pendukung materi dalam perjuangan dakwah. Pada tahun itu pula wafat Abu Thalib, paman yang selama ini memberikan perlindungan politik dan sosial. Kehilangan dua figur sentral ini menjadikan fase tersebut dikenal sebagai ‘amul huzni atau tahun kesedihan.
Dalam kondisi tertekan, Nabi Muhammad SAW mencari kemungkinan perlindungan baru dengan mendatangi Thaif. Upaya ini dapat dibaca sebagai ikhtiar rasional untuk memperoleh dukungan sosial dan keamanan. Namun, yang terjadi justru penolakan dan kekerasan. Nabi dilempari batu hingga berdarah, dan misi tersebut harus dihentikan. Pada titik inilah dimensi kemanusiaan Nabi tampil secara utuh: beliau terluka, terasing, dan tidak memiliki sandaran duniawi. Tidak lama setelah peristiwa itu, datanglah kabar ilahiah yang mengubah horizon perjuangan. Turunnya ayat pertama surat Al-Isra dapat dibaca sebagai penegasan bahwa sandaran sejati perjuangan bukanlah dukungan psikologis, materi, politik, ataupun militer, melainkan Allah SWT semata. Allah menunjukkan kekuasaan-Nya dengan memperjalankan hamba-Nya menembus langit hingga melampaui batas pengalaman manusia dalam waktu satu malam. Pesan peradaban yang terkandung di dalamnya jelas: ketika seluruh penopang dunia runtuh, transendensi menjadi sumber kekuatan yang tidak pernah gagal.
Salah satu inti Mi’raj adalah perintah salat. Begitu sentralnya salat dalam bangunan iman dan tauhid, hingga perintah ini tidak disampaikan melalui perantara wahyu biasa, melainkan melalui perjumpaan langsung antara Nabi Muhammad SAW dan Allah SWT. Hal ini menegaskan bahwa salat bukan sekadar ritual individual, melainkan fondasi etik dan spiritual yang menopang bangunan peradaban. Dari salat lahir disiplin, kesadaran moral, dan orientasi hidup yang melampaui kepentingan sesaat.
Krisis global saat ini—ketimpangan ekonomi, kerusakan lingkungan, dan konflik identitas—adalah gejala peradaban yang kehilangan orientasi vertikal. Isra Mi’raj menawarkan paradigma alternatif bahwa kemajuan harus dituntun oleh nilai, bukan sekadar oleh pasar dan kekuasaan. Bagi dunia Muslim maupun non-Muslim, peristiwa ini dapat dibaca sebagai kontribusi Islam terhadap etika global: bahwa kemajuan sejati adalah integrasi antara teknologi, keadilan sosial, dan kedalaman spiritual.
Isra Mi’raj bukan hanya peristiwa historis, melainkan paradigma peradaban. Ia mengajarkan bahwa arah peradaban global harus dimulai dari transendensi, diterjemahkan ke dalam etika, dan diwujudkan dalam tanggung jawab sosial. Dalam dunia yang semakin cepat namun kehilangan makna, Isra Mi’raj menawarkan kompas peradaban: naik dalam nilai, turun dalam pengabdian. (*)
*) Opini penulis ini merupakan tanggung jawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi kaltimtoday.co
Related Posts
- Blue Carbon: Harapan Baru Perdagangan Karbon
- Kaltim Masih Defisit 222 Ribu Ton Beras, Pemprov Genjot Optimalisasi Lahan 2026
- Lewat Seni, Generasi Muda Gaungkan Seruan Perlindungan Lanskap Mahakam
- Kritik Trump Tangkap Presiden Venezuela, Megawati Soroti Neokolonialisme di Rakernas I PDI Perjuangan
- Hadapi Potensi Bencana 2026, Dinsos Kaltim Siapkan 12.500 Bantuan Paket Logistik









