Daerah
Atasi Masalah Tempias di Pasar Pagi, Pemkot Samarinda Gunakan Dana CSR dari Kontraktor
Kaltimtoday.co, Samarinda - Penanganan rembesan air hujan atau tempias di Gedung Pasar Pagi Samarinda dipastikan akan menggunakan dana Corporate Social Responsibility (CSR) dari pihak kontraktor pelaksana. Langkah ini diambil sebagai solusi cepat untuk membenahi fasilitas gedung yang sempat dikeluhkan pedagang akibat masuknya air hujan ke dalam area pasar, tanpa membebani anggaran daerah.
Masalah ini mencuat setelah hujan deras disertai angin kencang yang mengguyur Kota Samarinda pada Sabtu (3/1/2026). Dalam sebuah rekaman video yang viral di media sosial, terlihat air hujan menggenangi Lorong di lantai enam, tepat di depan kios-kios yang baru mulai ditata oleh pedagang. Salah satu pedagang dari Toko Aghist Jaya mengeluhkan kondisi tersebut karena air merembes hingga ke bagian dalam pasar.
“Mohon perhatiannya, kami di lantai 6, hujan, airnya sampai ke dalam. Nah ini, seperti banjir ya, mohon diperhatikan solusinya bagaimana. Kami dari lantai 6, sudah mulai buka ini. Tolong dikasih solusi, Bu,” ujar pedagang tersebut dalam rekaman video yang beredar.
Kondisi ini terjadi lantaran bangunan baru Pasar Pagi mengusung konsep ventilasi silang cross ventilation dengan banyak bukaan alami. Meski bertujuan untuk sirkulasi udara yang sehat dan efisiensi energi, desain ini memerlukan sistem pelindung cuaca yang sangat presisi agar air tidak masuk ke lorong gedung saat hujan diikuti dengan angin kencang.
Kepala Dinas Perdagangan (Disdag) Samarinda, Nurrahmani, memberikan penjelasan lebih lanjut mengenai langkah penanganan masalah ini. Ia menyatakan bahwa pihaknya telah menjalin kesepakatan dengan kontraktor untuk segera melakukan perbaikan.
"Jadi gini, tempias itu kan sudah kita kondisikan dengan kontraktor. Mereka sudah oke dan lain-lain," kata perempuan yang akrab disapa Yama saat ditemui pada Rabu (14/1/2025).
Menurutnya, pihak kontraktor bersedia mengucurkan dana CSR untuk perbaikan ini karena merasa memiliki beban moral terhadap kondisi bangunan, meskipun masalah tempias tersebut berada di luar perencanaan awal.
Meski belum bisa memastikan angka pasti dari dana CSR yang akan diberikan, Yama menegaskan bahwa bagian yang terbuka tidak akan ditutup secara permanen agar fungsi ventilasi tetap berjalan. Solusi yang ditawarkan adalah pemasangan sistem pelindung yang dinamis.
"Bukan ditutup, tapi bentuknya kemungkinan seperti yang kayak kanopi yang bisa dibuka tutup dan lain-lain. Bahkan saya bilang, saya minta videonya deh yang sudah pernah dilakukan pada pihak lain kan. Bentuk desainnya seperti apa," jelasnya.
Hingga saat ini, pihak Disdag masih menunggu contoh material dan detail desain dari Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Samarinda. Nurrahmani menekankan bahwa pemilihan material tidak bisa diputuskan secara sepihak dan harus melalui persetujuan pimpinan daerah.
"Karena kan saya tidak bisa memutuskan sendiri. Saya akan membawa bahan itu ke Wali Kota untuk didiskusikan terlebih dahulu. Sampai saat ini informasi soal material bahan itu memang belum disampaikan," tutup Yama.
Adapun penanganan ini direncanakan akan dilakukan secara menyeluruh pada sisi kanan dan kiri gedung yang teridentifikasi terdampak tempias hujan.
[RWT]
Related Posts
- Mediasi Sengketa Informasi Muara Tae Bergulir, Pemerintah Kampung Tegaskan APBKam Terbuka
- Samarinda Darurat Maling Helm: Penjagaan Ketat dan Parkir Berbayar Tak Jamin Keamanan
- Evaluasi Pencairan Gratispol, Rektor UMKT Nilai Keterlambatan Masih dalam Batas Wajar
- Perbup Retribusi Sampah Picu Respons Warga, Kepala DLHK Kukar: Belum Menyasar Rumah Tangga
- Viral Posisi Tempat Duduk Sultan Kukar Saat Kunjungan Prabowo di Balikpapan, Adpim Pemprov Kaltim Angkat Bicara









