Entertainment
Deretan Peristiwa Penting pada 10 Muharam dalam Sejarah Islam: Kisah Penyelamatan Nabi Musa hingga Tragedi Karbala
Kaltimtoday.co - Bulan Muharam menempati posisi istimewa dalam Islam sebagai bulan pertama dalam kalender Hijriah sekaligus salah satu dari empat bulan haram atau bulan suci. Di antara hari-hari pada bulan tersebut, 10 Muharam atau hari Asyura memiliki makna yang sangat besar karena dikaitkan dengan sejumlah peristiwa penting dalam sejarah Islam.
Selain menyimpan nilai sejarah yang kuat, 10 Muharam juga menjadi waktu yang sangat dianjurkan bagi umat muslim untuk memperbanyak ibadah, amal saleh, dan meningkatkan ketakwaan kepada Allah Swt. Berbagai riwayat menunjukkan keutamaan hari Asyura sekaligus menjadi pengingat atas kebesaran Allah Swt dalam menolong hamba-Nya yang beriman.
Keutamaan bulan Muharam ini ditegaskan langsung oleh Rasulullah SAW melalui sabdanya yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim. Dalam hadis tersebut dinyatakan bahwa satu tahun terdiri atas 12 bulan, di antaranya terdapat empat bulan haram yang suci, yakni tiga bulan berurutan meliputi Zulkaidah, Zulhijah, dan Muharam, kemudian bulan Rajab suku Mudhar.
Berikut adalah deretan peristiwa penting yang sering dikaitkan dengan tanggal 10 Muharam dalam sejarah Islam:
1. Penetapan Kalender Hijriah
Meski momentum hijrah Rasulullah SAW dari Makkah ke Madinah sebenarnya berlangsung pada bulan Rabiulawal, awal penanggalan Islam justru ditetapkan dimulai dari bulan Muharam. Dalam buku Perkembangan Perumusan Kalender Islam Internasional karya Muh Rasywan Syarif, dijelaskan bahwa pada masa Khalifah Umar bin Khattab Ra, para sahabat mengadakan musyawarah untuk menentukan titik awal kalender Islam.
Mereka sepakat menjadikan peristiwa hijrah Rasulullah SAW sebagai awal perhitungan, dan memilih Muharam sebagai bulan pertama karena menjadi awal dimulainya perencanaan hijrah setelah musim haji berakhir.
2. Penyelamatan Nabi Musa As dari Kejaran Firaun
Salah satu peristiwa yang paling dikenal berkaitan dengan 10 Muharam adalah keselamatan Nabi Musa As beserta Bani Israil dari kejaran Firaun. Merujuk pada buku Selamat Tinggal Susah karya Asrifin An-Nakhrawie, diceritakan Allah Swt membelah Laut Merah sehingga Nabi Musa AS bersama para pengikutnya dapat menyeberang dengan selamat, sementara Firaun beserta seluruh pasukannya tenggelam setelah air laut menyatu kembali.
Peristiwa keselamatan Nabi Musa As ini juga menjadi alasan kaum Yahudi berpuasa pada hari Asyura sebagai bentuk rasa syukur mereka. Ketika tiba di Madinah dan melihat tradisi tersebut, Rasulullah SAW bersabda bahwa umat Islam lebih berhak terhadap Musa daripada mereka, sehingga Rasulullah SAW berpuasa pada hari Asyura dan memerintahkan umat Islam untuk melaksanakannya.
3. Disyariatkannya Puasa Asyura
Berkaitan dengan peristiwa keselamatan Nabi Musa As, umat Islam kemudian disyariatkan menjalankan puasa Asyura setiap tanggal 10 Muharam. Puasa ini memiliki keutamaan yang sangat besar berdasarkan hadis riwayat Abu Qotadah Al Anshoriy, di mana Nabi SAW menegaskan bahwa puasa Asyura akan menghapus dosa-dosa setahun yang lalu.
4. Selamatnya Bahtera Nabi Nuh As dari Banjir Besar
Momen bersejarah lain yang juga dikaitkan dengan hari Asyura adalah berakhirnya perjalanan bahtera Nabi Nuh As setelah banjir besar yang menenggelamkan kaum pembangkang. Dalam buku Kisah Para Nabi karya Imam Ibnu Katsir, disebutkan riwayat dari Qatadah dan ulama lainnya bahwa Nabi Nuh dan para pengikutnya menaiki kapal pada tanggal sepuluh bulan Rajab, berlayar selama 150 hari, berlabuh di Gunung Judi selama satu bulan, dan baru keluar dari kapal pada tanggal 10 Muharam.
5. Tragedi Syahidnya Husain bin Ali Ra di Karbala
Selain menyimpan kisah penuh hikmah dari para nabi, 10 Muharam juga dikenang sebagai hari yang menghadirkan duka mendalam melalui tragedi Karbala. Pada 10 Muharam 61 Hijriah, cucu Rasulullah SAW, Husain bin Ali Ra, gugur secara syahid di Karbala, wilayah Irak saat ini, di tengah pergolakan politik pada masa tersebut.
Ibnu Katsir dalam kitab Al-Bidayah wan Nihayah menuliskan bahwa yang membunuh Husein dengan tombak adalah Sinan bin Anas bin Amr Nakhai, yang kemudian menggorok leher Husein dan menyerahkan kepala cucu Rasulullah SAW tersebut kepada Khawali bin Yazid. Bagi umat Islam, tragedi Karbala ini dipandang sebagai simbol keberanian, pengorbanan, serta keteguhan iman dalam mempertahankan prinsip kebenaran di tengah ketidakadilan.
[RWT]









