Advertorial
Lewat Program Desa Berdaya, PLN Sulap Nelayan Tanjung Seloka Jadi Pembudidaya Kepiting Soka
KOTABARU, Kaltimtoday.co - Nelayan di Desa Tanjung Seloka, Kecamatan Pulau Laut Selatan, Kabupaten Kotabaru, mulai merasakan transformasi ekonomi. Melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL), PT PLN (Persero) Unit Induk Pembangunan Kalimantan Bagian Timur (PLN UIP KLT) sukses mengubah pola usaha masyarakat dari sekadar menangkap menjadi pembudidaya kepiting berkelanjutan.
Program bertajuk Desa Berdaya ini hadir sebagai solusi atas rendahnya nilai jual kepiting bakau hasil tangkapan alam yang biasanya berukuran kecil. Sejak tahun 2025, PLN memfasilitasi pengembangan demplot budidaya kepiting soka dan penggemukan kepiting menggunakan metode Recirculating Aquaculture System (RAS).
Ketua Kelompok Nelayan “Seloka Crabs”, Irhamsyah, mengungkapkan bahwa pendampingan ini memberikan kepastian penghasilan bagi para nelayan. Jika sebelumnya mereka menjual hasil tangkapan apa adanya dengan harga murah, kini nilai jual produk mereka meningkat signifikan setelah melalui proses budidaya.
“Sekarang, setelah dibudidayakan dan digemukkan, nilainya jauh lebih tinggi dan hasilnya lebih pasti,” ujar Irhamsyah dalam keterangannya, Kamis (2/4/2026).
Sepanjang tahun 2025, total produksi kelompok ini telah mencapai 90 kilogram, dengan angka produksi yang kini stabil di kisaran 30 kilogram per bulan. Selain bantuan sarana, nelayan juga dibekali pelatihan teknis dan manajemen usaha agar lebih efisien serta ramah lingkungan.
General Manager PLN UIP KLT, Basuki Widodo, menjelaskan bahwa kehadiran infrastruktur kelistrikan harus berjalan beriringan dengan manfaat nyata bagi kesejahteraan masyarakat. Menurutnya, potensi pesisir Tanjung Seloka sangat besar untuk dikembangkan tanpa merusak ekosistem.
“Kami mengembangkan program yang mampu memberikan nilai ekonomi sekaligus tetap menjaga lingkungan. Kami berharap inisiatif ini dapat terus berkembang dan menjadi penggerak ekonomi baru di wilayah pesisir,” kata Basuki.
Penerapan metode RAS dalam budidaya ini juga dinilai efektif menjaga populasi kepiting di alam karena proses penggemukan dilakukan secara terkontrol. Keberhasilan ini pun mulai menarik minat masyarakat lain di desa tersebut untuk mengembangkan usaha serupa.
Memasuki tahun 2026, PLN UIP KLT berkomitmen melanjutkan program ini dengan memperkuat pilar lingkungan dan ekonomi. Rencana kerja meliputi pelatihan penyuluhan lingkungan, penanaman pohon, hingga pemberian dukungan alat produksi bagi UMKM lokal.
Langkah proaktif ini diharapkan dapat memperluas dampak ekonomi yang telah terbentuk. Tanjung Seloka kini menjadi percontohan bagaimana pengelolaan potensi lokal dengan pendekatan teknologi tepat guna dapat menciptakan kemandirian ekonomi bagi masyarakat pesisir.
[TOS]
Related Posts
- Dinkes Kaltim Ungkap Estimasi 21 Ribu Kasus TBC Tahun 2026, Baru Bisa Jangkau 60 Persen
- Kas Daerah Seret, Utang Rp400 Miliar Pemkot Samarinda Dibayar Bertahap
- Pimpinan Badan Gizi Dicopot, JPPI Desak Presiden Prabowo Evaluasi Total Program Makan Gratis
- Tiga Hari Pencarian, Pemuda yang Hanyut di Sungai Melenyu Kutim Ditemukan Tewas
- Penjaringan Calon Rektor Universitas Muhammadiyah Berau Berjalan, Panitia: Wajib Mengacu Regulasi PP Muhammadiyah








