Kaltim
Mengais Makan di Tempat Sampah, Jadi Bukti Habitat Orangutan di Kutim Semakin Kritis
Habitat Orangutan Tersisa 20 Persen, "Koridor Satwa" di Lanskap Karaitan Mendesak
SANGATTA, Kaltimtoday.co - Kasus orangutan "Sam" yang mengais sampah di pinggir jalan Bengalon menjadi puncak gunung es dari krisis habitat yang melanda Kutai Timur. Aktivis lingkungan menyebut fenomena ini bukan sekadar soal satwa memungut limbah, melainkan bukti otentik perubahan perilaku akibat hilangnya ruang hidup.
Direktur Conservation Action Network (CAN) Borneo, Paulinus Kristanto, memberikan peringatan keras bahwa orangutan di kawasan tersebut kini berada dalam kondisi "bertahan hidup tanpa pilihan" di tengah kepungan industri pertambangan dan perkebunan.
Paulinus menegaskan, orangutan adalah satwa yang sangat cerdas dan mampu beradaptasi dalam berbagai kondisi ekstrem. Namun, ketika mereka mulai mencari makan di tempat sampah, itu adalah sinyal bahwa hutan sebagai sumber pakan alami telah habis.
"Hutan yang tersisa itu sekarang hanya ada di pinggir jalan, karena pembukaan lahan (land clearing) pertambangan batu bara sudah sangat dekat ke bahu jalan. Kiri dan kanan lokasi Sam ditemukan itu sudah habis, hanya 50-100 meter dari situ semuanya sudah menjadi tambang," tegas Paulinus.
Lebih jauh, Paulinus memotret sisi gelap di sepanjang jalur Simpang Perdau ke arah Wahau. Baginya, kawasan tersebut sudah hampir kehilangan harapan sebagai habitat meta-populasi orangutan karena ukurannya yang terlalu sempit dan terfragmentasi parah.
Jika ada orangutan yang masih bertahan, ungkap dia, mereka melakukannya karena terdesak kondisi, bukan karena lingkungan tersebut masih layak. Dia menilai evakuasi atau translokasi sebagai satu-satunya opsi logis yang tersisa untuk menyelamatkan nyawa satwa-satwa tersebut sebelum hutan pinggir jalan benar-benar rata dengan tanah.
Hanya Sekira 20 Persen Habitat untuk Orangutan yang Tersisa
Dosen Fakultas Kehutanan (Fahutan) Universitas Mulawarman (Unmul), Yaya Rayadin, juga menyebutkan bahwa ketika habitat hancur dan ketersediaan pakan alami menipis, orangutan akan mencari alternatif baru.
"Sekali mereka mengenal makanan manusia dan merasa layak, mereka akan kecanduan dan datang kembali berkali-kali ke tempat sampah itu," jelas Yaya.
Berdasarkan pengamatannya, dari sekitar 300 ribu hektare lanskap yang menjadi habitat orangutan di wilayah tersebut, diperkirakan hanya tersisa 20 persen hutan berkualitas baik. Ironisnya, sisa hutan yang sedikit itu pun terfragmentasi menjadi petak-petak kecil akibat kegiatan pertambangan open pit, perkebunan sawit, hingga permukiman. Kondisi ini membuat satwa liar terjebak dalam "pulau-pulau" hutan yang tidak saling terhubung, memaksa mereka keluar ke area terbuka seperti pinggir jalan raya.
Yaya menyoroti sebuah anomali sosial yang unik di lanskap Kutai. Berbeda dengan daerah lain, orangutan di sini cenderung tidak menganggap masyarakat atau pemukiman sebagai ancaman. Fenomena "efek tepi" (edge effect) di mana satwa biasanya menjauhi aktivitas manusia, justru tidak berlaku.
"Kita bisa melihat sarang orangutan di samping jalan logging, dekat kampung, bahkan di samping masjid atau warung. Mereka tahu masyarakat di sini bukan predator atau pemburu. Mereka merasa aman bersarang di dekat manusia," ungkapnya.
Namun, rasa aman yang dirasakan orangutan ini justru berbanding terbalik dengan kebijakan pemerintah. Yaya melihat adanya kontradiksi. Di satu sisi pemerintah berhasil mengampanyekan kesadaran perlindungan satwa kepada masyarakat, namun di sisi lain perizinan pembukaan lahan untuk kepentingan ekonomi (tambang dan sawit) terus berjalan di habitat utama mereka.
"Kampanyenya berhasil memberi kesadaran dilindungi, tapi perizinan ngerusak habitatnya jalan terus. Ini bukan lagi masalah kesadaran, tapi kebutuhan ekonomi," tegas Yaya.
Selain itu, dia mengungkapkan, sisa hutan yang kini tersisa hanya berada di bahu jalan raya karena desakan land clearing pertambangan sudah mencapai titik kritis. Menurutnya, jalur Simpang Perdau hingga Wahau sudah hampir kehilangan harapan bagi masa depan orangutan. Jika tidak ada upaya serius untuk mengkoneksikan sisa-sisa habitat yang terfragmentasi—sekitar 60 ribu hektare di lanskap Karaitan—maka evakuasi akan terus menjadi langkah "terpaksa" yang tiada ujung.
Kini, fokus utama para peneliti dan aktivis mendorong perusahaan pemegang izin untuk benar-benar komit pada konservasi melalui skema High Conservation Value (HCV). Yaya meyakini hanya tekanan pasar internasional (RSPO, ISFMP) yang mampu memaksa korporasi untuk patuh pada aturan perlindungan satwa. Selagi jalur hijau dan konektivitas habitat belum terwujud, orangutan di Kutai Timur akan terus hidup dalam bayang-bayang kepunahan, terjepit di antara masyarakat yang mereka percayai dan industri yang merusak rumah mereka.
Evakuasi Terus Dilakukan Tapi Bukan Solusi Jangka Panjang
Data dari BKSDA Kaltim memperkuat keprihatinan tersebut. Sepanjang tahun 2025 saja, terdapat 47 individu orangutan yang terpaksa dievakuasi (rescue) dari kawasan yang sama.
Kepala BKSDA Kaltim, M. Ari Wibawanto, mengakui bahwa tindakan penyelamatan tersebut dilakukan atas dasar "keterpaksaan" demi menjamin nyawa satwa yang sudah kehilangan ruang gerak.
"Habitat alami mereka di lanskap Karaitan kini terfragmentasi berat. Mereka tidak bisa ke mana-mana, akhirnya makan di pinggir jalan dan mengais sampah. Saat ini, masih ada sedikitnya 12 individu lagi yang teridentifikasi harus segera kami evakuasi secepatnya," kata Ari kepada awak media.
Meskipun evakuasi terus dilakukan, Ari menekankan bahwa pemindahan satwa bukanlah solusi jangka panjang. Saat ini, BKSDA tengah menggodok konsep "Area Preservasi" bersama para pelaku usaha pertambangan dan perkebunan di wilayah tersebut. Rencananya, area di luar kawasan konservasi (seperti Hutan Produksi atau APL) akan dikelola layaknya kawasan hutan sakral yang tidak boleh diganggu.
"Kita ingin pembangunan ekonomi tetap jalan, tapi aspek lingkungan tidak ditinggalkan. Kami sedang memetakan jalur migrasi hijau atau jembatan alami agar orangutan dan satwa lain seperti macan dahan dan beruang bisa berpindah tanpa harus keluar ke jalan raya," tambahnya.
Dia menegaskan, orangutan merupakan umbrella species (spesies payung). Menyelamatkan habitat mereka berarti menyelamatkan seluruh ekosistem di dalamnya. Namun, selagi jalur hijau tersebut belum terealisasi, orangutan di lintas Bengalon-Wahau tetap berada dalam ancaman maut, terjebak di sisa-sisa hutan yang kian menyempit di pinggir jalan raya.
[TOS]
Related Posts
- Tiga Hari Pencarian, Pemuda yang Hanyut di Sungai Melenyu Kutim Ditemukan Tewas
- Penjaringan Calon Rektor Universitas Muhammadiyah Berau Berjalan, Panitia: Wajib Mengacu Regulasi PP Muhammadiyah
- Hari Kedua Pencarian Pemuda Terseret Arus di Sungai Melenyu Kutai Timur Masih Nihil
- Jumlah Desa Belum Berlistrik di Kaltim Turun, Dinas ESDM Fokus Sasar Wilayah Terisolasi
- Beasiswa Gratispol Kaltim Tahap 3 Cair Rp288 Miliar, Gubernur Ingatkan Kampus Kembalikan UKT Mahasiswa









