Nasional
Viral Hujan Es Terjang Bantul Saat Kemarau, BMKG Jelaskan Pemicu Fenomena Pancaroba di DIY
Kaltimtoday.co - Fenomena hujan es melanda wilayah Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Badan Meteorologi,Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengonfirmasi peristiwa tersebut dipicu oleh pertumbuhan pesat awan konvektif Kumulonimbus pada masa peralihan musim (pancaroba), kendati sebagian besar wilayah DIY saat ini masih berada dalam periode musim kemarau.
Koordinator Data dan Informasi Stasiun Klimatologi Kelas II DIY BMKG, Etik Setyaningrum, menyampaikan bahwa hingga awal November 2026, akumulasi curah hujan di DIY masih terpantau di bawah 50 milimeter. Hal ini menunjukkan indikasi kuat bahwa wilayah DIY belum sepenuhnya memasuki musim hujan.
"Seluruh wilayah di Yogyakarta masih musim kemarau. Namun, pada November ini sudah terlihat indikasi masa peralihan atau pancaroba," ujar Etik di kantornya, Rabu (4/11/2026).
Etik memaparkan bahwa hujan es di Bantul terjadi bertepatan dengan aktifnya fenomena Madden-Julian Oscillation(MJO) yang mempercepat pembentukan awan hujan. Hasil pemantauan radar BMKG menunjukkan gumpalan awan konvektif Kumulonimbus terbentuk signifikan di kawasan Pandak, Bantul.
Awan Kumulonimbus memiliki struktur vertikal yang sangat tinggi dengan suhu pada puncak awan dapat mencapai di bawah nol derajat Celsius. Pembekuan butiran air menjadi partikel es terjadi di dalam awan tersebut, lalu jatuh meluncur ke permukaan bumi ketika arus udara ke atas (updraft) tak lagi sanggup menopangnya.
"Jadi, hujan es itu salah satu faktornya adalah munculnya awan konvektif atau awan Kumulonimbus yang terpantau di wilayah Pandak, Bantul," terang Etik.
Awal Musim Hujan di DIY Mundur Satu Bulan
BMKG memprakirakan datangnya awal musim hujan di wilayah Yogyakarta akan berlangsung secara bertahap dan mengalami penundaan dibanding pola normalnya akibat dampak fenomena El Nino.
- Akhir November (Dasarian III): Wilayah Sleman bagian utara diproyeksikan menjadi daerah pertama yang memasuki musim hujan.
- Awal Desember: Musim hujan mulai meluas menyapu kawasan tengah DIY.
- Pertengahan Desember: Penetrasi musim hujan diperkirakan baru mencapai kawasan selatan DIY.
"Kalau dibandingkan kondisi normal, awal musim hujan biasanya terjadi sekitar pertengahan Oktober hingga awal November. Namun, tahun ini diprakirakan mundur sekitar satu bulan," ungkap Etik.
Kendati demikian, potensi hujan berintensitas ringan hingga sedang tetap berpeluang muncul sepanjang November,sebelum intensitasnya meningkat tajam pada kisaran 200–400 milimeter per bulan pada periode Desember hingga Januari.
Imbauan Mitigasi Bencana Hidrometeorologi
Menghadapi tingginya dinamika cuaca di masa peralihan ini, BMKG mengimbau masyarakat untuk mewaspadai ancaman bencana hidrometeorologi, seperti banjir, angin kencang, dan tanah longsor.
Warga yang bermukim di daerah rawan bencana diminta menggiatkan langkah mitigasi mandiri sejak dini, salah satunya dengan membersihkan saluran drainase dan aliran sungai dari material yang menyumbat air.
"Karena kita sudah memasuki masa peralihan, potensi cuaca ekstrem masih bisa terjadi. Masyarakat perlu tetap waspada dan mulai melakukan langkah mitigasi, terutama di daerah rawan banjir dan longsor," tutup Etik.
[RWT]
Related Posts
- Peneliti Iklim Ingatkan Ancaman El Nino Godzilla, Indonesia Diproyeksi 19.300 Kematian
- Hotspot Karhutla di Kaltim Melonjak Dua Kali Lipat, BMKG Sebut Asap Berasal dari Pembakaran Lokal
- Status Tanggap Darurat Berakhir, DPRD Samarinda Minta Waspada Kekeringan Tetap Dijaga
- Pertengahan September, Lahan Terbakar akibat Karhutla Tembus 2.500 Hektare di Kaltim
- Musim Hujan 2026/2027 Datang Terlambat, BMKG Minta Antisipasi Kekeringan Ekstrem hingga Akhir Tahun








