Daerah

Di Balik Maraknya Pencurian Helm, Rantai Penadahan Tumbuh Subur di Jantung Kota Samarinda

Nindiani Kharimah — Kaltim Today 15 Januari 2026 21:14
Di Balik Maraknya Pencurian Helm, Rantai Penadahan Tumbuh Subur di Jantung Kota Samarinda
Salah satu lapak penjual helm bekas di kawasan simpang A.M. Sangaji-Perniagaan Samarinda. (Nindi/Kaltimtoday.co)

Kaltimtoday.co, Samarinda - Maraknya aksi pencurian helm di Kota Samarinda telah mencapai titik yang sangat meresahkan warga. Barang-barang hasil kejahatan tersebut diduga kuat mengalir ke sebuah titik krusial di pusat kota, yakni kawasan simpang Jalan A.M. Sangaji-Perniagaan tak jauh dari Pasar Segiri. Lokasi yang dipenuhi lapak penjual helm bekas ini terindikasi kuat menjadi pusat bagi para pelaku pencurian untuk menukarkan barang jarahan mereka dengan uang tunai.

Indikasi ini mencuat setelah baru-baru ini, sebuah video viral di media sosial memperlihatkan seorang pencuri helm di wilayah Samarinda Ulu yang berhasil diringkus warga.

Dalam tekanan massa, pelaku akhirnya mengakui perbuatannya dan menunjukkan lokasi di mana ia menjual helm-helm hasil curian tersebut. Lokasi yang dituju pelaku memang benar mengarah pada salah satu lapak pedagang helm bekas yang beroperasi di kawasan A.M. Sangaji tersebut.

Fenomena ini menciptakan sebuah rantai ekonomi gelap yang unik sekaligus ironis. Para korban pencurian yang merasa kesal karena terus-menerus kehilangan helm, justru kembali ke kawasan A.M. Sangaji untuk membeli helm bekas dengan harga miring. Salah satunya adalah Zibril (27), warga Samarinda yang mengaku sudah dua kali menjadi pelanggan di pasar helm bekas tersebut setelah dirinya kehilangan helm di jalanan.

Zibril membeberkan bahwa dirinya pernah membeli helm merek GM berwarna hitam di sana dengan harga sekitar Rp100 ribu hingga Rp150 ribu. Ia menyadari sepenuhnya bahwa tempat ia bertransaksi terindikasi kuat sebagai lokasi penadahan barang curian, namun kebutuhan dan rasa trauma menjadi korban membuatnya tetap memilih jalur tersebut.

“Saya tahu itu tempat penadahan helm curian. Tapi karena sudah pernah jadi korban, ya sudah beli di situ lagi saja. Beli baru juga nanti hilang lagi,” ujar Zibril dengan nada pasrah. Baginya, membeli helm baru di toko resmi terasa seperti kerugian ganda jika nantinya tetap menjadi sasaran pencuri di Samarinda.

Beralih ke sisi pedagang, aktivitas jual beli di kawasan ini berlangsung secara terbuka. Salah satu penjual yang enggan disebutkan namanya mengakui bahwa ia kerap membeli helm dari orang perorangan yang datang ke lapaknya. Meski tidak menyebut secara eksplisit asal-usul barang tersebut, ia tidak menampik bahwa pihaknya sesekali menerima pasokan dari individu yang terindikasi menjual barang hasil curian.

Namun, para pedagang ini tetap memiliki standar tertentu dalam menerima barang. Kondisi fisik menjadi penentu utama apakah sebuah helm akan dibeli untuk dijual kembali atau ditolak.

"Saya kadang beli, tapi kalau kondisinya kayak gitu (tidak ada kaca dan lecet) saya tidak bisa beli. Karena kalau kayak gitu, saya jadi susah kalau mau jual balik," ungkap pedagang tersebut.

Selain itu, ia menegaskan bahwa lapaknya tidak melayani sistem tukar tambah. Transaksi yang terjadi murni jual beli tunai. "Kalau dijual baru saya beli, itu pun tergantung kondisi barang dan kesepakatan harga," tambahnya. Untuk harga jual ke konsumen, ia mematok helm merek MDS di angka Rp200 ribu, sementara merek KYT dibanderol mulai dari Rp300 ribu tergantung pada jenis dan kondisinya.

Redaksi Kaltim Today melakukan penelusuran mendalam terkait harga pasaran yang berlaku di sejumlah lapak di kawasan tersebut. Berdasarkan pantauan di lapangan, harga yang ditawarkan memang jauh di bawah harga toko resmi, yang menjadi daya tarik utama bagi pembeli seperti Zibril.

Berikut adalah kisaran harga helm bekas yang ditemukan di kawasan Jalan A.M. Sangaji:

  • Cargloss: Rp150.000 (kondisi kurang bersih) hingga Rp200.000 (kondisi bersih).
  • Bogo: Rp100.000 – Rp120.000 untuk barang yang diklaim masih baru.
  • GM: Rp100.000 – Rp150.000 (kondisi kotor) dan Rp200.000 (kondisi bersih).
  • KYT: Rp200.000 untuk tipe biasa, sementara tipe sport dibanderol Rp300.000 hingga Rp450.000.

[RWT]



Berita Lainnya