banner

DPRD KUKAR

Tanaman Padi di Danau Semayang Tumbuh Subur, Dewan Kukar Taufik Ridiannur Ungkap Progresnya

Supri Yadha — Kaltim Today 30 Oktober 2026 18:05
Tanaman Padi di Danau Semayang Tumbuh Subur, Dewan Kukar Taufik Ridiannur Ungkap Progresnya
Anggota DPRD Kukar Dapil VI, Taufik Ridiannur. (Istimewa)

Kaltimtoday.co, Tenggarong - Masyarakat yang tinggal di sekitaran Danau Semayang mulai bersiap menyambut panen padi yang ditanam di kawasan Danau. Tanaman padi yang tumbuh di lahan danau saat menyusut tersebut diperkirakan memasuki masa panen raya pada pertengahan November 2026.

Anggota DPRD Kukar, Taufik Ridiannur mengatakan, perkembangan tanaman padi di kawasan tersebut sejauh ini menunjukkan hasil yang cukup baik. Ia optimistis penanaman yang dilakukan masyarakat dapat menghasilkan panen sesuai harapan.

Taufik mengaku turut terlibat dalam kegiatan penaburan benih padi bersama Bupati Kukar, Aulia Rahman Basri, beberapa waktu lalu. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya memanfaatkan lahan di kawasan Danau Semayang yang mengering saat musim kemarau.

"Alhamdulillah, kita melihat perkembangannya sangat bagus sekali. Kita berharap dan memohon doa dari teman-teman agar kegiatan ini bisa menghasilkan panen raya," kata Taufik kepada Kaltimtoday.co, Jumat (30/10/2026).

Ia memperkirakan panen raya dapat berlangsung pada pertengahan hingga akhir November 2026. Namun, pelaksanaannya tetap bergantung pada kondisi cuaca di kawasan tersebut. Bahkan, saat ini sebagian tanaman padi sudah mulai dipanen oleh masyarakat.

Menurut Taufik, penanaman padi di kawasan Danau Semayang memiliki pola tersendiri. Aktivitas pertanian tersebut tidak berlangsung setiap tahun, melainkan menyesuaikan kondisi danau. 

Ketika musim kemarau tiba dan permukaan air menyusut hingga lahan mengering, masyarakat memanfaatkan area tersebut untuk menanam padi.

Kebiasaan ini bukan hal baru bagi warga Desa Semayang. Penanaman padi di kawasan danau sudah dilakukan secara turun-temurun berdasarkan pengalaman masyarakat terdahulu dalam membaca kondisi alam.

"Penanaman padi di Semayang ini tidak dilakukan setiap tahun, tetapi hanya ketika posisi danau itu kering atau disebut dengan kemarau. Jadi, masyarakat memanfaatkan lahan yang mengering untuk bertanam padi," jelasnya.

Ia menambahkan, metode penanaman yang diterapkan masyarakat juga beragam. Setidaknya terdapat dua cara yang digunakan, yakni metode tabur dan metode konvensional.

Metode tabur dilakukan dengan menyebarkan benih padi secara langsung ke lahan yang telah disiapkan. Sementara metode konvensional dilakukan dengan menyemai benih terlebih dahulu, kemudian bibit dicabut untuk selanjutnya ditanam kembali di lahan.

Metode tabur yang dilakukan bersama Bupati Kukar beberapa waktu lalu sempat menjadi perhatian publik. Namun, Taufik menjelaskan, cara tersebut bukan metode baru yang diperkenalkan kepada masyarakat, melainkan sudah menjadi kebiasaan warga setempat sejak dahulu.

Bahkan, ketika mengikuti kegiatan penanaman bersama masyarakat, dirinya dan rombongan langsung melakukan penaburan benih karena mengikuti metode yang selama ini diterapkan warga Desa Semayang.

"Memang sudah turun-temurun dilakukan. Nenek moyang kita dahulu juga melakukan hal yang sama. Jadi, itu berdasarkan pengalaman," tuturnya.

Dari hasil pemantauan, kedua metode tersebut sama-sama menunjukkan pertumbuhan tanaman padi. Hanya saja, terdapat perbedaan dari pola pertumbuhannya. Tanaman yang menggunakan metode tabur cenderung tumbuh tidak beraturan karena benih disebarkan langsung ke lahan.

Sedangkan metode konvensional menghasilkan pertumbuhan yang relatif lebih merata karena bibit ditanam kembali dengan pola yang lebih teratur.

Meski demikian, Taufik menyebut kedua metode tersebut tetap menunjukkan hasil pertumbuhan yang baik. Hal ini menjadi salah satu alasan masyarakat optimistis menyambut masa panen mendatang.

Di sisi lain, ia turut menjelaskan kondisi penanaman padi yang sempat viral di media sosial, terutama ketika memperlihatkan kaki Bupati Kukar dan sejumlah pihak terendam hingga mendekati lutut saat melakukan penaburan benih.

Menurutnya, kondisi tersebut bukan disebabkan kedalaman air danau yang mencapai lutut, melainkan karena permukaan lahan yang diinjak merupakan tanah berlumpur. Ketika berdiri di bagian yang tidak berlumpur, ketinggian air sebenarnya hanya mencapai mata kaki.

"Karena posisi yang kita injak itu berlumpur. Kalau kita memosisikan diri berdiri di tempat yang tidak berlumpur, airnya paling hanya sampai mata kaki. Namun, karena kita menginjak lumpur, kaki kita terbenam," terangnya.

Lebih lanjut, Taufik menyampaikan, pihaknya telah berkoordinasi dengan Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) Kukar untuk mempersiapkan pelaksanaan panen raya di Desa Semayang.

Sebelumnya, panen raya juga telah dilaksanakan di Desa Sebelimbingan pada 25 Oktober 2026. Setelah kegiatan tersebut, perhatian selanjutnya diarahkan pada hasil pertanian masyarakat di kawasan Danau Semayang yang ditargetkan memasuki masa panen pada November mendatang.

"Insyaallah, pertengahan atau akhir November kita akan melaksanakan panen raya di Desa Semayang," tutupnya.

[RWT | ADV DPRD KUKAR] 



Berita Lainnya