Daerah

Ulas Peradaban 4,5 Abad, Buku Sejarah Islam Kaltim Bakal Jadi Persembahan Utama di Konsorsium Borneo

Nindiani Kharimah — Kaltim Today 02 April 2026 16:48
Ulas Peradaban 4,5 Abad, Buku Sejarah Islam Kaltim Bakal Jadi Persembahan Utama di Konsorsium Borneo
Peluncuran buku “Sejarah Islam di Kalimantar Timur” pada Kamis (2/4/2026). (Nindi/Kaltimtoday.co)

Kaltimtoday.co, Samarinda - Aula Perpustakaan Kota Samarinda menjadi pusat perhatian melalui peluncuran buku bertajuk “Sejarah Islam di Kalimantan Timur: Empat Setengah Abad Jaringan Dakwah, Ulama, dan Peradaban dari Kerajaan hingga Republik” pada Kamis (2/4/2026). 

Menariknya, forum ini dikemas secara egaliter tanpa seremoni yang kaku, di mana para peserta yang hadir mendapatkan ruang terbuka untuk berdiskusi dua arah sekaligus memberikan saran maupun kritik terhadap materi buku secara langsung kepada penulis.

Penulisan karya sejarah ini merupakan kolaborasi antara Rektor Universitas Mulawarman, Abdunnur, dan sejarawan publik Muhammad Sarip. Proses penyusunannya berlangsung intensif selama tiga bulan dengan melibatkan berbagai pihak, mulai dari tim teknis komunitas Samarinda Bahari hingga para keturunan tokoh ulama untuk mendapatkan deskripsi fakta dan dokumentasi foto yang akurat.

Abdunnur menyatakan bahwa inisiasi buku ini bertujuan untuk memperkuat pemahaman sejarah bagi generasi muda sebagai persiapan menuju generasi emas 2045.

"Buku ini menjadi sebuah inspirasi bagi kita semua bagaimana menghadirkan sebuah sejarah dalam bentuk buku khususnya yang kita peruntukan untuk seluruh generasi sebetulnya," kata Abdunnur. 

Kehadiran buku tersebut sekaligus menjawab tantangan minimnya referensi sejarah lokal yang komprehensif di Kalimantan Timur dalam beberapa dekade terakhir, mengingat literasi yang ada sebelumnya masih bersifat parsial dan terfragmentasi.

Muhammad Sarip menjelaskan bahwa naskah ini mencakup rentang waktu yang sangat panjang, yakni selama empat setengah abad sejak tahun 1575 hingga 2025. Ia menekankan adanya nilai-nilai integritas dan keteladanan dari para tokoh masa lalu yang perlu diresapi oleh publik di era modern.  

"Pesan kepada publik bahwa ternyata dari sejarah kita masa lampau, ada pelajaran bahwa para figur tokoh zaman dulu itu menghidupkan agama bukan mencari hidup di agama," ungkap Sarip.

Sejarawan yang telah menerbitkan 14 buku sejarah ini juga menegaskan pentingnya kritik dari audiens dalam forum tersebut untuk perbaikan pada cetakan mendatang. "Makanya hari ini peluncuran buku bukan sekadar glorifikasi kita puji-puji buku. Kritik itu hal yang biasa namanya juga bukan kitab suci, tulisan manusia pasti ada salahnya dan itu wajar dan kita berterima kasih ada masukan," ujarnya.

Selain aspek kronologi sejarah, buku ini membedah bagaimana Islam dapat diterima dengan harmonis oleh masyarakat Kalimantan Timur melalui pendekatan dakwah yang toleran terhadap budaya lokal. Abdunnur, yang juga merupakan putra dari ulama Kaltim KH Saberanity, menyebutkan bahwa pesan persatuan menjadi poin krusial yang ingin disampaikan melalui karya ini. 

“Perkembangan Islam di Kalimantan Timur justru menjadi sebuah poin pentingnya pesannya pemersatu perbedaan itu sendiri sehingga ini berdampak sampai sekarang bahwa masyarakat Kalimantan Timur lebih mudah menerima perbedaan," tutur Abdunnur.

Rencananya, buku ini akan secara khusus menjadi persembahan utama dalam forum internasional Konsortium Universiti Universitas Borneo (KUUB). Organisasi yang menghimpun universitas dari tiga negara yaitu Indonesia, Malaysia, dan Brunei ini akan menjadikan buku tersebut sebagai dasar kajian keislaman di Borneo. Abdunnur menegaskan posisi strategis karya ini untuk forum tersebut pada tahun 2026 saat Unmul bertindak sebagai tuan rumah. 

"Tentu buku ini menjadi persembahan utama karena menjadi referensi dasar perkembangan Islam yang ada di Kalimantan khususnya di Kalimantan Timur yang menjadi sebuah referensi bagi semua perguruan tinggi yang tergabung di dalam KUUB," jelasnya.

Karya setebal 208 halaman ini disusun dengan pendekatan historiografi populer agar tetap mudah dipahami oleh berbagai lapisan masyarakat. Penyelenggara dari Lasaloka-KSB bersama ICMI Kaltim berharap buku ini menjadi titik awal bagi lahirnya lebih banyak literasi sejarah lokal yang mampu menjadi referensi di kancah nasional maupun global.

[RWT] 



Berita Lainnya