Internasional

Munculnya Delcy Rodríguez sebagai Pemimpin Interim Venezuela Pasca-Penangkapan Maduro

Kaltim Today
05 Januari 2026 07:37
Munculnya Delcy Rodríguez sebagai Pemimpin Interim Venezuela Pasca-Penangkapan Maduro
Wakil Presiden Delcy Rodriguez, kiri, tersenyum kepada Menteri Pertahanan Venezuela Padrino Lopez, saat mereka menempuh rute yang dilewati jenazah mendiang Presiden Hugo Chavez. (Foto AP/Matias Delacroix, File)

Kaltimtoday.co - Di tengah ketidakpastian yang menyelimuti Venezuela, Presiden Interim Delcy Rodríguez muncul menggantikan sekutu dekatnya, Presiden Nicolás Maduro, yang ditangkap oleh Amerika Serikat dalam sebuah operasi militer malam hari. 

Rodríguez telah menjabat sebagai Wakil Presiden Maduro sejak 2018, mengawasi sebagian besar ekonomi Venezuela yang bergantung pada minyak serta dinas intelijen yang disegani. Ia berada dalam urutan pertama dalam suksesi kepresidenan.

Ia merupakan bagian dari kelompok pejabat senior dalam pemerintahan Maduro yang kini tampak memegang kendali atas Venezuela, bahkan ketika Presiden AS Donald Trump dan pejabat lainnya menyatakan akan terus menekan pemerintah tersebut agar tunduk pada visi AS untuk negara kaya minyak itu.

Pada hari Sabtu (3/1/2026), Mahkamah Agung Venezuela memerintahkannya untuk mengemban peran sebagai presiden interim dengan dukungan militer. Dalam pidato di televisi, Rodríguez tidak memberikan indikasi akan bekerja sama dengan Trump, dan justru menyebut pemerintahannya sebagai "ekstremis."

"Satu-satunya presiden Venezuela adalah Presiden Nicolás Maduro," ujar Rodríguez, dikelilingi oleh pejabat sipil berpangkat tinggi dan pemimpin militer. "Apa yang dilakukan terhadap Venezuela adalah sebuah kekejaman yang melanggar hukum internasional."

Rodríguez, seorang pengacara dan politisi berusia 56 tahun, memiliki karier panjang dalam mewakili revolusi yang dimulai oleh mendiang Hugo Chávez di panggung dunia. 

Kenaikannya menjadi pemimpin interim pada Sabtu (3/1/2026) pagi mengejutkan banyak pihak, terutama setelah Trump mengumumkan bahwa Menteri Luar Negeri Marco Rubio telah menjalin komunikasi dengan Rodríguez. Trump awalnya menyebut pemimpin Venezuela itu "ramah" dan bersedia bekerja sama.

Namun, pada hari Minggu (4/1/2026), nada bicara Trump berubah drastis saat Rodríguez dan pejabat Venezuela lainnya terus mengecam pemerintahan Trump dan menegaskan kontrol mereka atas negara tersebut.

"Jika dia tidak melakukan apa yang benar, dia akan membayar harga yang sangat mahal, mungkin lebih mahal daripada Maduro," ujar Trump tentang Rodríguez dalam sebuah wawancara dengan The Atlantic.

Di hari yang sama, Rubio menegaskan bahwa ia tidak menganggap Rodríguez dan pemerintahannya "sah" karena mengeklaim Venezuela tidak pernah mengadakan pemilihan umum yang bebas dan adil.

Jejak Karier dan Kekuatan Politik

Wakil Presiden Venezuela Delcy Rodriguez ikut serta dalam pembicaraan dengan Menteri Luar Negeri Rusia di Moskow, 1 Maret 2019. (Foto AP/Pavel Golovkin, File)
Wakil Presiden Venezuela Delcy Rodriguez ikut serta dalam pembicaraan dengan Menteri Luar Negeri Rusia di Moskow, 1 Maret 2019. (Foto AP/Pavel Golovkin, File)

Sebagai pengacara lulusan Inggris dan Prancis, Rodríguez dan saudara laki-lakinya, Jorge Rodríguez (Ketua Majelis Nasional), memiliki kredibilitas sayap kiri yang lahir dari tragedi keluarga. Ayah mereka, seorang pemimpin sosialis, meninggal dalam tahanan polisi setelah ditangkap karena terlibat dalam penculikan pengusaha Amerika, William Niehous, pada tahun 1976.

Berbeda dengan banyak lingkaran dalam Maduro, Rodríguez bersaudara sejauh ini terhindar dari dakwaan kriminal di AS, meskipun Delcy pernah menghadapi sanksi AS selama masa jabatan pertama Trump karena perannya dalam merusak demokrasi Venezuela.

Rodríguez pernah menjabat sebagai menteri ekonomi, menteri luar negeri, dan menteri perminyakan. Ia dikenal memiliki hubungan kuat dengan elemen-elemen militer yang selama ini menjadi penentu perselisihan politik di Venezuela.

"Ia memiliki hubungan yang sangat khusus dengan kekuasaan," kata Ronal Rodríguez, juru bicara Observatorium Venezuela di Universitas Rosario, Bogota. "Ia berhasil membangun garis dialog dengan angkatan bersenjata, sebagian besar atas dasar transaksional."

Konstitusi Venezuela mewajibkan diadakannya pemilu dalam waktu 30 hari jika presiden "berhalangan tetap". Namun, Mahkamah Agung dalam keputusannya pada hari Sabtu menyebut ketidakhadiran Maduro sebagai hal yang "sementara".

Dalam skenario tersebut, tidak ada kewajiban pemilu segera. Wakil Presiden dapat mengambil alih kekuasaan hingga 90 hari, yang dapat diperpanjang hingga enam bulan melalui pemungutan suara di Majelis Nasional. Penyerahan kekuasaan kepada Rodríguez tanpa penyebutan batas waktu 180 hari memicu spekulasi bahwa ia mungkin mencoba bertahan di kekuasaan lebih lama demi menyatukan faksi-faksi partai sosialis yang berkuasa.

[TOS | AP]



Berita Lainnya