Internasional

Rencana Trump Ambil Alih dan Revitalisasi Industri Minyak Venezuela Hadapi Hambatan Besar

Kaltim Today
05 Januari 2026 07:21
Rencana Trump Ambil Alih dan Revitalisasi Industri Minyak Venezuela Hadapi Hambatan Besar
Kendaraan melintas di depan kilang minyak El Palito di Puerto Cabello, Venezuela, Minggu, 21 Desember 2025. (Foto AP/Matias Delacroix)

Kaltimtoday.co - Rencana Presiden Donald Trump untuk mengambil alih industri minyak Venezuela dan melibatkan perusahaan-perusahaan Amerika Serikat (AS) untuk merevitalisasinya—pasca-penangkapan Presiden Nicolás Maduro dalam sebuah operasi—diperkirakan tidak akan memberikan dampak instan yang signifikan terhadap harga minyak dunia.

Industri minyak Venezuela saat ini dalam kondisi rusak parah setelah bertahun-tahun terabaikan dan terkena sanksi internasional. Oleh karena itu, dibutuhkan waktu bertahun-tahun dan investasi besar sebelum produksi dapat meningkat secara drastis. Meski demikian, sejumlah analis optimis bahwa Venezuela dapat melipatgandakan atau melipattigakan produksinya saat ini—yang berada di angka 1,1 juta barel per hari—untuk kembali ke level historis dalam waktu yang cukup singkat.

"Meskipun banyak laporan menyebutkan infrastruktur minyak Venezuela tidak rusak oleh aksi militer AS, fasilitas tersebut telah mengalami pembusukan selama bertahun-tahun dan butuh waktu untuk dibangun kembali," ujar Patrick De Haan, analis minyak utama di pelacak harga bensin, GasBuddy.

Perusahaan minyak AS membutuhkan rezim yang stabil sebelum bersedia berinvestasi besar-besaran. Namun, gambaran politik tetap tidak pasti hingga Sabtu (3/1/2026) lalu. Trump menyatakan bahwa AS memegang kendali, sementara Wakil Presiden Venezuela saat ini sempat berargumen agar Maduro dipulihkan kekuasaannya, sebelum akhirnya Mahkamah Agung Venezuela memerintahkannya untuk menjabat sebagai presiden interim.

"Jika AS terlihat sukses menjalankan pemerintahan dalam 24 jam ke depan, saya rasa akan muncul optimisme bahwa perusahaan energi AS dapat masuk dan merevitalisasi industri minyak Venezuela dengan cukup cepat," kata Phil Flynn, analis pasar senior di Price Futures Group.

Flynn menambahkan, jika Venezuela mampu tumbuh kembali menjadi kekuatan produksi minyak, hal itu dapat "memperkuat harga rendah untuk jangka panjang" dan memberikan tekanan lebih besar kepada Rusia.

Harga minyak mentah AS turun 0,44 persen menjadi 57,07 dolar AS per barel pada Minggu malam. Pergeseran besar pada harga minyak tidak diharapkan karena Venezuela adalah anggota OPEC, sehingga produksinya sudah diperhitungkan di sana. Selain itu, saat ini terdapat surplus minyak di pasar global.

Venezuela diketahui memiliki cadangan minyak mentah terbukti terbesar di dunia, yakni sekitar 303 miliar barel, menurut Administrasi Informasi Energi AS. Angka itu mencakup sekitar 17 persen dari seluruh cadangan minyak global.

Evana, sebuah kapal tanker minyak, sedang bersandar di pelabuhan El Palito di Puerto Cabello, Venezuela, Minggu, 21 Desember 2025. (Foto AP/Matias Delacroix)
Evana, sebuah kapal tanker minyak, sedang bersandar di pelabuhan El Palito di Puerto Cabello, Venezuela, Minggu, 21 Desember 2025. (Foto AP/Matias Delacroix)

Hal ini menjadi alasan kuat mengapa perusahaan minyak internasional tertarik pada Venezuela. Exxon Mobil tidak segera menanggapi permintaan komentar pada hari Sabtu. Juru bicara ConocoPhillips, Dennis Nuss, menyatakan melalui email bahwa perusahaan sedang memantau perkembangan di Venezuela dan potensi dampaknya terhadap pasokan serta stabilitas energi global. "Terlalu dini untuk berspekulasi mengenai aktivitas bisnis atau investasi di masa depan," tulisnya.

Saat ini, Chevron adalah satu-satunya perusahaan dengan operasi signifikan di Venezuela, memproduksi sekitar 250.000 barel per hari melalui usaha patungan dengan perusahaan milik negara, Petróleos de Venezuela S.A. (PDVSA).

"Chevron tetap fokus pada keselamatan dan kesejahteraan karyawan kami, serta integritas aset kami. Kami terus beroperasi dengan kepatuhan penuh terhadap semua hukum dan peraturan yang relevan," kata juru bicara Chevron, Bill Turenne.

Meskipun memiliki cadangan masif, produksi Venezuela saat ini kurang dari 1 persen dari pasokan minyak mentah dunia. Korupsi, salah urus, dan sanksi ekonomi AS menyebabkan produksi turun drastis dari 3,5 juta barel per hari pada tahun 1999 ke level saat ini.

"Masalahnya bukan hanya infrastruktur yang buruk, tetapi bagaimana meyakinkan perusahaan asing untuk mulai mengucurkan uang sebelum mereka memiliki perspektif yang jelas tentang stabilitas politik dan situasi kontrak," kata Francisco Monaldi, Direktur Program Energi Amerika Latin di Rice University. Monaldi memperkirakan butuh waktu satu dekade dan investasi sekitar 100 miliar dolar AS agar Venezuela bisa mencapai produksi 4 juta barel per hari.

Matthew Waxman, profesor hukum Universitas Columbia dan mantan pejabat keamanan nasional era George W. Bush, menyebutkan bahwa pengambilalihan sumber daya Venezuela membuka persoalan hukum tambahan.

"Masalah besarnya adalah: siapa yang sebenarnya memiliki minyak Venezuela?" tulis Waxman. "Kekuatan militer yang menduduki sebuah wilayah tidak dapat memperkaya diri dengan mengambil sumber daya negara lain, namun pemerintahan Trump kemungkinan akan mengklaim bahwa pemerintah Venezuela sebelumnya tidak pernah memilikinya secara sah."

Waxman mencatat bahwa pemerintahan saat ini cenderung mengabaikan hukum internasional jika menyangkut masalah Venezuela.

[TOS | AP]



Berita Lainnya