Internasional

Setelah Maduro, Siapa Berikutnya? Komentar Trump Picu Kecemasan Terkait Rencananya Terhadap Greenland dan Kuba

Kaltim Today
05 Januari 2026 07:27
Setelah Maduro, Siapa Berikutnya? Komentar Trump Picu Kecemasan Terkait Rencananya Terhadap Greenland dan Kuba
Presiden Donald Trump memantau operasi militer AS di Venezuela, bersama Menteri Luar Negeri Marco Rubio di Mar-a-Lago di Palm Beach, Florida, Sabtu, 3 Januari 2026. (Molly Riley/Gedung Putih via AP)

Kaltimtoday.co - Sehari setelah operasi militer AS yang berani di Venezuela, Presiden Donald Trump pada hari Minggu kembali menyerukan pengambilalihan wilayah Greenland milik Denmark demi kepentingan keamanan AS. Di saat yang sama, diplomat tertingginya menyatakan bahwa pemerintah komunis di Kuba sedang berada dalam "banyak masalah."

Komentar dari Trump dan Menteri Luar Negeri Marco Rubio pasca-penggulingan Nicolás Maduro di Venezuela menegaskan bahwa pemerintahan AS serius dalam mengambil peran yang lebih ekspansif di Belahan Bumi Barat. Dengan ancaman yang terselubung, Trump mengguncang kawan maupun lawan di kawasan tersebut, memicu pertanyaan tajam di seluruh dunia: Siapa berikutnya?

"Kita sangat membutuhkan Greenland, mutlak," ujar Trump dalam sebuah wawancara dengan The Atlantic. Ia mendeskripsikan pulau Arktik yang strategis tersebut sebagai wilayah yang "dikelilingi oleh kapal-kapal Rusia dan China."

Ketika ditanya apakah aksi militer AS di Venezuela bisa menjadi pertanda bagi Greenland, Trump menjawab: "Mereka harus menilainya sendiri. Saya benar-benar tidak tahu." Pihak Gedung Putih tidak memberikan tanggapan atas permintaan komentar lebih lanjut.

Dalam Strategi Keamanan Nasional yang diterbitkan bulan lalu, Trump menetapkan pemulihan "keunggulan Amerika di Belahan Bumi Barat" sebagai pedoman utama pada periode kedua masa jabatannya. Ia juga mengutip Doktrin Monroe abad ke-19—yang menolak kolonialisme Eropa—serta Roosevelt Corollary, yang pernah digunakan AS untuk mendukung pemisahan Panama dari Kolombia demi mengamankan Zona Terusan Panama.

Reaksi Keras dari Denmark

Operasi militer di Caracas pada Sabtu dini hari dan wawancara Trump di The Atlantic meningkatkan kekhawatiran di Denmark, yang memiliki yurisdiksi atas Greenland.

Perdana Menteri Denmark, Mette Frederiksen, dalam sebuah pernyataan menyatakan bahwa Trump "tidak memiliki hak untuk mencaplok" wilayah tersebut. Ia mengingatkan bahwa Denmark, sebagai sesama anggota NATO, sudah memberikan akses keamanan yang luas kepada AS di Greenland melalui perjanjian yang ada.

"Saya mendesak AS untuk berhenti mengancam sekutu historis yang dekat, serta negara dan rakyat yang telah menyatakan dengan sangat jelas bahwa mereka tidak untuk dijual," tegas Frederiksen.

Sementara itu, kekhawatiran menyelimuti Kuba, salah satu sekutu terpenting Venezuela. Menteri Luar Negeri Marco Rubio memberikan peringatan keras kepada pemerintah Kuba melalui acara "Meet the Press" di NBC. Rubio mengeklaim bahwa pengawal Maduro di Venezuela sebenarnya adalah warga Kuba, bukan Venezuela.

"Kuba-lah yang menjaga Maduro. Dia tidak dijaga oleh pengawal Venezuela, tapi pengawal Kuba," kata Rubio, seraya menambahkan bahwa pihak Kuba juga mengelola "intelijen internal" dalam pemerintahan Maduro untuk memastikan tidak ada pengkhianat.

Trump pada hari Sabtu mengatakan kepada wartawan bahwa ia memandang pemerintah Kuba "sangat mirip" dengan Venezuela. "Kuba adalah negara yang gagal saat ini, dan kita ingin membantu rakyatnya," ujar Trump.

Otoritas Kuba menanggapi dengan mengadakan reli dukungan untuk pemerintah Venezuela dan mengecam operasi militer AS. "Semua negara di kawasan ini harus tetap waspada, karena ancaman ini menggantung di atas kita semua," tulis pemerintah Kuba dalam pernyataannya.

[TOS]



Berita Lainnya