Advertorial
Pekan Menyusui Sedunia 2026, UNICEF dan WHO Minta Dukungan ASI Eksklusif Diperkuat
Kaltimtoday.co - Menyambut Pekan Menyusui Sedunia 1–7 Agustus 2026 yang mengusung tema “Breastfeeding for a Sustainable Start in Life – Strengthen What Works”, UNICEF dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyerukan penguatan investasi dan intervensi berkelanjutan untuk melindungi serta mendukung praktik menyusui di Indonesia.
Peringatan ini menegaskan bahwa dukungan terhadap pemberian ASI merupakan investasi strategis dalam membangun kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) unggul guna menyongsong Indonesia Emas 2045.
Indonesia mencatatkan lompatan positif dalam peningkatkan cakupan ASI eksklusif bagi bayi usia 0–5 bulan, yakni naik dari 52 persen pada 2017 menjadi 66,4 persen pada 2024. Angka ini telah melampaui target global World Health Assembly yang menetapkan batasan minimal 60 persen pada 2030.
Perwakilan UNICEF Indonesia, Maniza Zaman, menegaskan bahwa menyusui adalah hak dasar anak untuk memperoleh awal kehidupan terbaik sekaligus tanggung jawab kolektif seluruh lapisan masyarakat.
“Setiap anak berhak memperoleh awal kehidupan yang terbaik, dan menyusui merupakan salah satu cara paling efektif untuk mewujudkan hak tersebut. Mendukung praktik menyusui juga berarti berinvestasi pada masa depan Indonesia dengan membangun generasi yang lebih sehat, tangguh, dan mampu mencapai potensi terbaiknya," kata Maniza Zaman.
Senada dengan hal tersebut, Perwakilan WHO untuk Indonesia, Dr. N. Paranietharan, menggarisbawahi pentingnya menciptakan ekosistem yang aman bagi ibu dari gempuran promosi pengganti ASI yang tidak tepat.
"Setiap ibu berhak memperoleh dukungan yang dapat dipercaya, layanan kesehatan yang berkualitas, serta perlindungan dari praktik pemasaran pengganti ASI yang tidak tepat. Melalui kepemimpinan yang kuat dan aksi bersama, kita dapat memastikan setiap anak memperoleh awal kehidupan yang paling sehat," ungkap Dr. N. Paranietharan.
Dari sisi medis, bayi yang tidak mendapatkan ASI berisiko meninggal sebelum usia satu tahun hingga 14 kali lebih tinggi. Di Indonesia, praktik menyusui yang tidak optimal diperkirakan menyebabkan hilangnya hampir 5,8 juta poin IQ anak setiap tahun yang berdampak buruk pada tingkat produktivitas masa depan.
Secara ekonomi, optimasi praktik menyusui diproyeksikan mampu mencegah lebih dari 8.000 kematian anak dan 4.200 kematian ibu per tahun, menghemat biaya layanan kesehatan di atas 60 juta dolar AS, memangkas pengeluaran susu formula hingga 600 juta dolar AS, serta menyumbang manfaat ekonomi nasional mencapai 5 miliar dolar AS per tahun.
Pemerintah Indonesia sendiri telah memperkuat regulasi pelindung melalui UU Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan, PP Nomor 28 Tahun 2024, serta UU Nomor 4 Tahun 2024 tentang Kesejahteraan Ibu dan Anak pada Fase Seribu Hari Pertama Kehidupan.
Kendati demikian, tantangan besar masih membayang-bayangi. Data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 menunjukkan bahwa meski 90 persen persalinan berlangsung di fasilitas kesehatan, baru sekitar satu dari empat bayi baru lahir yang mendapatkan Inisiasi Menyusu Dini (IMD) dalam satu jam pertama kelahiran.
UNICEF dan WHO mendesak penegakan regulasi pembatasan pemasaran susu formula, penyediaan fasilitas penunjang dan cuti melahirkan yang memadai di tempat kerja, serta penguatan layanan konseling menyusui di Posyandu dan Puskesmas secara berkesinambungan.
[RWT | ADV]
Related Posts
- Perkuat Deteksi Zoonosis, Indonesia Jadi Model Kolaborasi Multisektoral One Health Versi WHO
- Setelah 2 Tahun Berikan Imunisasi Intensif, Indonesia Akhirnya Resmi Bebas KLB Polio Tipe 2
- Sejarah Hari Diabetes Sedunia dan Pesan Penting di Balik Peringatannya
- Pekan ASI Sedunia: UNICEF dan WHO Soroti Pentingnya Dukungan bagi Ibu Menyusui di Indonesia
- Rentan Serang Remaja, Berikut 6 Cara Mengatasi Asma Agar Bisa Hidup Lebih Sehat







