Nasional

El Nino Lanjut Hingga Awal 2027, BMKG Peringatkan Risiko Kemarau Ekstrem dan Karhutla

Network — Kaltim Today 03 Agustus 2026 11:32
El Nino Lanjut Hingga Awal 2027, BMKG Peringatkan Risiko Kemarau Ekstrem dan Karhutla
Ilustrasi karhutla. (Pexels)

Kaltimtoday.co - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memproyeksikan fenomena iklim El Nino masih akan melanda wilayah Indonesia hingga awal kuartal I 2027. Kondisi ini berpotensi mencapai kategori intensitas kuat dan memicu ancaman musim kemarau yang jauh lebih kering dibandingkan kondisi normal.

Puncak dampak El Nino diperkirakan makin tereskalasi menyusul adanya peluang kemunculan fenomena Indian Ocean Dipole (IOD) positif pada periode September hingga Desember 2026.

Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menjelaskan bahwa kombinasi dua fenomena anomali suhu permukaan laut tersebut berisiko memicu kekeringan meteorologis secara signifikan di berbagai daerah.

"Informasi iklim ini sejalan dengan prediksi BMKG, dimana fenomena El Nino diproyeksikan bertahan hingga awal 2027 dan memicu kondisi kemarau yang lebih kering dari normal," ujar Teuku Faisal Fathani, dikutip dari Antara, Senin (3/8/2026).

BMKG mencatat hingga pertengahan Juli 2026, sebanyak 509 Zona Musim (ZOM) atau sekitar 54,5 persen daratan Indonesia telah memasuki musim kemarau, melingkupi wilayah Pulau Jawa, Sumatera, Kalimantan, hingga Papua. Hari Tanpa Hujan (HTH) terpanjang tercatat mencapai 80 hari di Pos Hujan Katerban, Kaligesing, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah.

Puncak musim kemarau diprakirakan terjadi pada Agustus (meliputi 48,84 persen wilayah) dan September (25,41 persen wilayah). Selain itu, sekitar 48,77 persen daratan diperkirakan mengalami durasi kemarau lebih panjang, sementara curah hujan tinggi baru diprediksi muncul bertahap pada Oktober hingga November 2026.

Dampak fenomena ini membayang-bayangi sejumlah sektor vital. BMKG telah mendeteksi setidaknya 4.900 titik panas (hotspot) hingga akhir Juli 2026, yang mengindikasikan lonjakan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Ancaman lain meliputi defisit air di sektor pertanian yang memicu penurunan produktivitas hingga puso, krisis pasokan air bersih masyarakat, hingga potensi gangguan kesehatan seperti Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) akibat penurunan kualitas udara dan cuaca panas ekstrem.

Guna meminimalkan dampak bencana, BMKG menggencarkan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) yang difokuskan pada wilayah rawan seperti Sumatera Selatan, Kalimantan Tengah, Riau, dan posko pendukung di Jawa Barat.

Langkah ini dijalankan melalui sinergi ketat bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), TNI-Polri, Kementerian Kehutanan, serta Kementerian Lingkungan Hidup sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto. BMKG mengimbau pemerintah daerah dan masyarakat untuk menghemat penggunaan air serta menyesuaikan pola tanam demi menghadapi dampak El Nino. 

[RWT] 



Berita Lainnya