Kaltim
Menjaga Hutan, Merawat Tradisi: Sejauh Mana Manfaat Karbon Dirasakan Masyarakat Adat Kubar?
Hutan telah menghidupi warga Kampung Lou Mancoung, Kecamatan Jempang, Kabupaten Kutai Barat, dari generasi ke generasi. Dari sana mereka memperoleh sumber penghidupan sekaligus menjaga warisan yang ditinggalkan leluhur.
Namun, hutan yang selama ini menjadi bagian dari kehidupan mereka menghadapi tekanan yang terus datang. Industri ekstraktif dan perkebunan sawit perlahan mengepung ruang hidup warga.
Ketika menjaga hutan kini juga memiliki nilai dalam upaya menekan emisi karbon, pertanyaan lain ikut hadir: sejauh mana warga dilibatkan dan ikut menikmati manfaatnya?
**
PERJALANAN yang mesti kami lalui hari itu tidak singkat: delapan jam. Namun ketika tiba, perasaan damai tiba-tiba menyergap. Sepoi angin menyentuh wajah kami lembut.
Kampung itu, yang biasa disebut Lou Mancoung, terasa begitu damai dan cukup sepi. Tidak banyak aktivitas yang terlihat. Hanya ada beberapa warga bersantai di pelataran rumah. Juga beberapa bocah yang berlarian di atas papan kayu penghubung rumah-rumah warga.
Tepat di bawah jembatan, terdapat aliran sungai kecil. Airnya surut dan berwarna kecoklatan. Ada juga perahu kayu sederhana yang dibiarkan tertambat di bibir sungai. Sebagian terlihat terbengkalai. Sebagian lainnya terlihat masih berfungsi. Belakangan saya tahu, sungai merupakan bagian penting dari kehidupan warga kampung.
Sebagian lingkungan kampung itu masih dihimpit dengan pepohonan hijau. Di balik kesederhanaanya, sebenarnya banyak hal dari kampung ini yang menyita perhatian. Sungainya. Pohon-pohonnya. Suasananya. Kehidupan warganya.
Namun dari semua itu, ada satu yang memang langsung menarik atensi: rumah adat suku Dayak Benuaq. Dibangun menggunakan kayu ulin atau biasa disebut ‘’iron wood’’, ia berdiri kokoh di tengah pemukiman warga.
Melihat lebih dekat, terbesit pertanyaan bagaimana lamin ini bisa berdiri, fungsinya, hingga hal-hal menarik di dalamnya.
Namun dari semua itu, ada satu yang memang langsung menarik atensi: rumah adat suku Dayak Benuaq. Dibangun menggunakan kayu ulin atau biasa disebut ‘’iron wood’’, ia berdiri kokoh di tengah pemukiman warga.
Melihat lebih dekat, terbesit pertanyaan bagaimana lamin ini bisa berdiri, fungsinya, hingga hal-hal menarik di dalamnya.
Lamin Mancong, Rumah Panjang Penjaga Ingatan
Tak lama berselang, kami bertemu dengan juru pelihara Lamin Mancong. Namanya Darmawan. Rambutnya putih panjang dengan kulit kecoklatan. Ia mengajak untuk berkeliling. Melihat isi dan cerita di dalam lamin tersebut.
Ada banyak bilik kamar. Serta ukiran-ukiran indah diatas pintu masuk dan pagarnya. Sebagian sisi dinding, terpajang tengkorak kepala kerbau. Satu dari kepala kerbau tertulis "Munte, 19- 9-99".
Darmawan mulai bercerita mengenai Lamin Mancong. Didirikan oleh tokoh dari komunitas masyarakat adat Benuaq Ohokng Sangokng, yaitu Temenggung Baang, di pinggiran Sungai Ohokhg pada September 1920.
Berdirinya Lamin Mancong rupanya menuai kontroversi. Kerajaan Kutai yang dipimpin Sultan Aji Muhammad Alimuddin, merasa keberatan dengan bentuk bangunan Lamin Mancong karena seperti meniru keraton kayu milik sultan.
"Temenggung Baang sempat di tahan tiga bulan di kerajaan karena mendirikan lamin ini," kata Darmawan.
Bangunan lamin menunjukkan adanya akulturasi Dayak dengan sentuhan corak melayu. Ini terjadi karena adopsi gaya Keraton Kesultanan Kutai Kartanegara. Lamin Mancong dibangun dengan berukuran panjang 63 meter, dan lebar 11,5 meter dengan total 24 kamar.
Dulunya, kamar-kamar diisi dengan banyak keluarga dari garis kuturunan pendiri sebagai tempat tinggal sebagai simbol kebersamaan masyarakat Dayak. Meskipun sudah tidak ditinggali lagi, Lamin beralih fungsi menjadi tempat untuk acara acara adat. Mulai dari upacara kematian (kuangkai), tradisi pengobatan (belian), hingga upacara pernikahan.
Secara turun temurun, tradisi leluhur masih terjaga melalui acara adat pada momen tertentu. Misal pada puncak acara ritual adat kematian atau (kuangkai), pemotongan kerbau selalu dilakukan untuk memuliakan dan mengantarkan arwah anggota keluarga yang telah wafat menuju alam kedamaian.
"Tengkorak kepala kerbau itu sebagai kenang-kenangan pada acara adat yang sudah digelar," ungkapnya.
Masyarakat Mancong pada akhirnya tetap menjaga dan menggunakan Lamin untuk sejumlah upacara adat di kampung. Begitulah pengakuan Darmawan.
Tak jauh dari Lamin, kami berkunjung ke rumah kepala adat di sana. Menilik lebih jauh mengenai tradisi, asal-usul, serta regenerasi pelestarian adat di Kampung Lou Mancong.
Di Ambang Putusnya Regenerasi, Tradisi Kian Terkikis
Disambut dengan ramah, kepala adat lou mancong mempersilahkan untuk masuk. Ia menerima kunjungan kami pagi itu, kurang lebih pukul tujuh. Obrolan demi obrolan mengalir. Ia menggambarkan situasi budaya dan pelestarian adat di sana.
Sampai membahas regenerasi, kekhawatirannya tampak dari raut wajahnya. Sambil menatap ke atas dan tersenyum kecil, dia bilang kalau generasi muda sudah tidak minat untuk meneruskan pelestarian adat.
"Generasi muda ini, tidak ada minat di situ. Jadi budaya lama itu mulai ditinggalkan," kata Kepala Adat Kampung Lou Mancong, Andreas Arjuna.
Andreas pun bingung. Entah disengaja atau tidak, lambat laun budaya para leluhur kini mulai tergerus. Hanya para petinggi saja yang berupaya mempertahankan. Di ambang putusnya regenerasi, Andreas sangat khawatir jika budaya di kampung benar-benar hilang dari peradaban.
Salah satu contohnya, ritual pengobatan tradisional suku Dayak Benuaq yang biasa disebut Upacara Belian. Ritual ini dilakukan untuk memohon kesembuhan bagi orang yang sedang sakit, diyakini karena adanya gangguan roh halus.
Masih dijalankan. Namun, perlu tokoh dari luar kampung untuk menjalankan ritualnya. Bahkan di kampung Mancong sendiri, tidak ada lagi orang yang mampu menjalankan ritual tersebut.
"Kami terpaksa mencari dari luar seperti di Muara Tae atau Muara Nayan, karena sudah tidak ada lagi yang bisa," ujarnya.
Sisa-Sisa Warisan Adat di Tengah Hutan yang Berubah
Semua perlengkapan untuk upacara tradisi adat, dulunya sangat mudah ditemukan di hutan. Namun, semenjak masuk perusahaan sawit di era-90 an, masyarakat adat di kampung Lou Mancong sangat kesulitan mencari bahan untuk kebutuhan upacara adat. Mulai dari kayu ulin, rotan, hingga dedaunan.
Ekspansi perkebunan kelapa sawit skala besar di Kutai Barat telah mengubah bentang alam dan memicu krisis bahan adat. Ritual Kuangkai membutuhkan kayu hutan berkualitas tinggi seperti kayu ulin, untuk membangun tempat ritual, tiang pengikat kerbau, atau mengukir patung-patung sakral.
Proses adat kematian juga membutuhkan beraneka ragam dedaunan khusus, akar-akaran, bunga hutan, dan tanaman sesajen yang hanya tumbuh di ekosistem hutan alami.
Andreas sangat merasakan krisis tersebut. Secara tidak langsung, mengikis secara perlahan tradisi yang dulunya bisa dilakukan dengan mudah.
"Sejak ada perusahaan sawit, sangat susah menemukan bahan-bahan untuk upacara adat. Bahkan kita harus mencari ke kampung lain," imbuhnya.
Melalui penjelasan Andreas, rotan juga sudah mulai susah ditemukan. Apalagi mencari dalam skala yang cukup besar. Padahal, rotan adalah urat nadi dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Dayak.
Sepintas ia kembali pada kenangan lampau, bahwa orang zaman dulu bikin rumah hingga pondok di ladang utamanya menggunakan rotan. Warga sekitar menyebutnya dengan rotan merah. Perubahannya sangat drastis. Berdampak pada krisis bahan adat hingga tergerusnya tradisi adat hingga sekarang.
Sisa-sisa warisan adat juga ditunjukkan langsung oleh Andreas. Mandau dan Sumpit. Bagi masyarakat Dayak Benuaq di Mancong, senjata-senjata tradisional ini bukan lagi sekadar alat pertahanan, melainkan simbol identitas yang sakral.
Mandau digunakan untuk ritual upacara adat, juga bisa dipakai untuk berladang. Sedangkan sumpit dulunya dipakai untuk berburu binatang hutan. Meski kini, sumpit sudah jarang digunakan seperti zaman dulu.
"Kalau untuk berburu di hutan sudah jarang, aktivitas sekarang ya berladang, atau kadang mencari ikan di sungai. Meski sekarang ikannya sudah mulai menyusut," imbuhnya.
Tiga mandau yang ditunjukkan Kepala Adat Lou Mancong. (Defrico/Kaltimtoday.co)
Dana Karbon Masuk Desa, Sejauh Mana Manfaatnya?
Bagi warga Kampung Lou Mancong, Kecamatan Jempang, Kutai Barat, hutan bukan sekadar hamparan pepohonan yang mengelilingi permukiman. Hutan menjadi bagian dari kehidupan, tempat masyarakat menggantungkan kebutuhan sekaligus menjaga warisan leluhur yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Namun, di tengah upaya menjaga kelestarian hutan dan menekan emisi karbon, ada pertanyaan yang tak kalah penting: sejauh mana masyarakat yang menjaganya turut merasakan manfaat?
Masyarakat Peduli Api (MPA) menjadi pintu masuk untuk menunjukkan bahwa upaya menekan emisi tidak cukup hanya melalui kebijakan pemerintah. Masyarakat di sekitar hutan juga memiliki peran penting dalam mencegah kebakaran dan menjaga tutupan hutan.
Sekretaris Kampung Lou Mancong, Kecamatan Jempang, Kutai Barat, Cristianus Renaldy menyebut bahwa telah dibentuk di tingkat desa kelompok Masyarakat Peduli Api (MPA). Kelompok tersebut didampingi oleh BPBD, termasuk bantuan pelatihan dalam mencegah potensi kebakaran yang terjadi di hutan.
"Sudah ada patrolinya. Jadi, bisa mencegah jika ada kebakaran," bebernya.
Keberadaan dana karbon mulai dirasakan masyarakat melalui kegiatan patroli untuk mencegah kebakaran hutan dan lahan. Sejak tahun lalu, patroli dilakukan untuk mendeteksi potensi kebakaran lebih awal, meski kemunculan titik api sulit diprediksi.
Jika menemukan titik api, masyarakat berkoordinasi dengan BPBD untuk melaporkan lokasi dan melakukan pengecekan. Upaya ini juga melibatkan Masyarakat Peduli Api (MPA) yang beranggotakan sekitar 30 orang.
Selain patroli, anggota MPA mendapat pelatihan dari BPBD untuk meningkatkan kesiapsiagaan dalam menghadapi kebakaran.
Ia mengusulkan, manfaat dana karbon ke depan dapat menjangkau pengembangan UMKM pengrajin, mulai dari membantu penyediaan bahan baku hingga memperluas pemasaran produk.
Pelatihan pemasaran digital juga dinilai penting agar kerajinan lokal mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman dan menjangkau konsumen di luar kampung.
Baginya, kerajinan bukan sekadar produk yang diperjualbelikan. Di dalamnya, ada keterampilan dan pengetahuan lokal yang perlu terus diwariskan. Dukungan terhadap para pengrajin diharapkan dapat menjaga tradisi tetap hidup, sekaligus memberi nilai ekonomi bagi masyarakat yang merawatnya.
Di Balik Lestarinya Ulap Doyo, Ada Tantangan Menjangkau Pasar
Pengrajin tenun ikat ulap doyo di Lou Mancong kian mengikis. Keberadaan mereka bisa dihitung jari. Kami bertemu dengan salah satu pengrajin yang kebetulan sedang menenun di rumahnya.
Tantangannya sangat terasa. Pertumbuhan sawit yang semakin masif, membuat bahan baku untuk menenun sulit didapat. Belum lagi kesulitan pemasaran untuk menjual hasil kerajinan itu.
Di musim panas, daun doyo rupanya sulit ditemukan. Sehingga, pengrajin harus memutar otak untuk menyimpan bahan baku. Terkadang, ia harus membeli dengan orang luar kampung, untuk mendapatkan bahan tersebut.
"Sekarang sulit mencarinya, karena banyak perkebunan kepala sawit. Jadinya langka," tutur Etipta Rusdina sebagai Pengrajin Tenun Ikat Ulap Doyo Kampung Lou Mancong.
Soal generasi penerus, jawabannya pun sama. Anak-anak di kampung Mancong, juga tidak banyak yang tertarik untuk meneruskan kepiawaian dalam menenun. Meski begitu, Etipta yakin masih ada yang bisa meneruskan, namun tidak dalam jumlah banyak.
Waktu usia remaja, Etipta justru tidak diajarkan menenun oleh orang tuanya. Ilmu tersebut dia dapat dari ketekunan belajar bersama tetangganya.
"Kalau bukan anak saya, paling tidak anak tetangga saya, ponakan, atau orang di kampung sini yang bisa meneruskan,"pesannya.
Satu lagi tantangan kata Etipta yang masih dirasakan yaitu soal pemasaran. Meski sudah ada yang membeli hasil kerajinannya, ia sangat ingin untuk memperluas pasar bagi kain tenun ikat ulap doyo khas Mancong.
Ia biasa menjual dengan harga Rp 600-700 ribu satuannya. Hasil tersebut untuk mencukupi kebutuhan hidupnya di kampung. Para pengrajin menanti perhatian dari pihak pemerintah, agar bisa mengembangkan usahanya ke depan.
Kepiawaian Etipta saat menenun dan menghasilkan produk tenun ikat ulap doyo. (Defrico/Kaltimtoday.co)
Pendekatan ke Masyarakat Adat: Kurangi Seremoni, Perbanyak Aksi
Tidak semua pendekatan kepada masyarakat harus dimulai dari forum resmi. Di Kampung Mancong, Kecamatan Jempang, Kutai Barat, percakapan sederhana justru menjadi salah satu pintu masuk untuk memahami kebutuhan warga.
Bagi Koordinator Lapangan Yayasan Bina Kelola Lingkungan (BIKAL), Nayunda Nur Aini Ramadhani, mendampingi masyarakat bukan semata mengumpulkan warga dalam pertemuan. Ia memilih mendekat melalui kegiatan informal, seperti berkunjung dan menemani aktivitas sehari-hari warga. Dari obrolan itulah, kebutuhan, persoalan, hingga potensi kampung perlahan tergali.
Meski dalam beberapa kesempatan, BIKAL juga menghadapi kendala dalam menciptakan pertemuan bersama warga. Melihat masyarakat Mancong juga rutin menjalankan aktivitas seperti berladang, ataupun kegiatan lainnya.
"Yang kami lihat di sini ada potensi wisata, terus juga masyarakat hukum adatnya juga masih kuat," sebutnya.
Pendekatan tersebut menjadi bagian dari upaya BIKAL mendampingi masyarakat Kampung Mancong menyusun program yang sesuai dengan kondisi desa, sekaligus menyiapkan dokumen pengajuan masyarakat hukum adat.
Usul Baru Warga Kampung Tepian Ulaq Ingin Kembangkan Keramba
Bagi masyarakat Kampung Tepian Ulaq, dana karbon bukan sekadar bantuan yang datang dan digunakan untuk memenuhi kebutuhan kampung. Di balik pemanfaatannya, tersimpan harapan agar program tersebut bisa membuka peluang ekonomi dan memberi manfaat dalam jangka panjang bagi masyarakat.
Sebelumnya, dana karbon dimanfaatkan untuk membeli pompa pemadam kebakaran dan pengadaan bibit tanaman buah. Bibit kelengkeng, rambutan, dan durian kemudian dibagikan kepada masyarakat untuk ditanam di lingkungan masing-masing.
Kini, warga memiliki usulan baru. Pembuatan keramba menjadi salah satu aspirasi yang disampaikan untuk mendorong peningkatan ekonomi masyarakat. Selain keramba, ada pula warga yang menginginkan pengembangan tanaman buah-buahan.
Kepala Kampung Tepian Ulaq, Sahirin, mengatakan usulan tersebut muncul dari kebutuhan masyarakat untuk mengembangkan kegiatan yang dapat menunjang penghasilan mereka.
“Pada waktu itu ada yang mau keramba, ada yang mau lain-lain seperti tanaman buah-buahan. Tapi yang paling menjadi aspirasi warga itu soal keramba,” ujarnya.
Menurut Sahirin, pengembangan keramba diharapkan dapat menjadi salah satu pilihan usaha produktif bagi masyarakat. Meski demikian, usulan tersebut masih perlu dibahas lebih lanjut.
Ia ingin, pemanfaatan dana karbon ke depan tidak hanya menjawab kebutuhan kampung, tetapi juga membuka kesempatan bagi warga untuk memperkuat perekonomian mereka.
Melalui penjelajahan dua kampung di Kutai Barat, kebutuhan dan potensinya memiliki perbedaan tersendiri. Di Kampung Lou Mancong misalnya, hutan berkaitan erat dengan keberlangsungan tradisi leluhur. Kelangkaan bahan baku untuk kebutuhan adat dan tenun Ulap Doyo menjadi tantangan yang dihadapi masyarakat, di tengah kekhawatiran akan semakin sedikitnya generasi muda yang meneruskan warisan tersebut.
Sementara di Kampung Tepian Ulaq, warga mulai memanfaatkan dana karbon untuk mendukung upaya pencegahan kebakaran hutan dan menanam bibit buah. Mereka juga berharap pemanfaatannya dapat berkembang, termasuk untuk mendukung usaha keramba yang berpotensi menambah penghasilan.
Karena itu, manfaat dana karbon tidak cukup dilihat dari kegiatan yang telah dijalankan. Keterlibatan warga dalam menentukan kebutuhan serta keberlanjutan manfaatnya juga menjadi bagian penting untuk diperhatikan.
Pada akhirnya, menjaga hutan bukan hanya tentang mempertahankan tutupan hijau atau mencegah kebakaran. Ada kehidupan masyarakat yang turut bergantung padanya, mulai dari tradisi yang diwariskan lintas generasi hingga sumber penghidupan yang ingin terus dikembangkan.
Tantangannya adalah memastikan bahwa upaya menekan emisi karbon berjalan seiring dengan kebutuhan masyarakat, sehingga mereka tidak hanya menjadi bagian dari penjagaan hutan, tetapi juga ikut merasakan manfaat dari hutan yang tetap lestari.**
Liputan ini didukung oleh Bank Dunia melalui kemitraan bersama Kelompok Kerja Perhutanan Sosial Universitas Mulawarman (Center for Social Forestry/CSF UNMUL).
Related Posts
- Dorong Hilirisasi dan Energi, MIF 2026 Gaet Potensi Investasi Rp 32,7 Triliun di Kaltim
- Toyota Luncurkan Kijang Innova Zenix Berteknologi T Intouch di Samarinda
- Soroti Antrean BBM di SPBU Setiap Hari, DPRD Kukar Bakal Telusuri Dugaan Penyelewengan
- Pemprov Kaltim Usulkan Karhutla Bencana Nasional, Bupati Kukar Harap Penanganan Lebih Masif
- Bentuk Karakter ASN, Bupati Kukar Pastikan Program Gerakan Etam Mengaji Berlanjut








