Internasional

Tiongkok Desak Kanada Lepas dari Pengaruh AS saat PM Mark Carney Kunjungi Beijing

Kaltim Today
14 Januari 2026 07:59
Tiongkok Desak Kanada Lepas dari Pengaruh AS saat PM Mark Carney Kunjungi Beijing
Perdana Menteri Kanada Mark Carney, kiri, berjabat tangan dengan Presiden Tiongkok Xi Jinping di awal pertemuan di Gyeongju, Korea Selatan, 31 Oktober 2025. (Adrian Wyld/The Canadian Press via AP, File)

BEIJING, Kaltimtoday.co - Saat Perdana Menteri Kanada Mark Carney tiba di Tiongkok pada hari Rabu, tuan rumah melihat peluang untuk sedikit menjauhkan sekutu lama AS tersebut dari rival mereka. Media pemerintah Tiongkok menyerukan agar pemerintah Kanada menetapkan jalur kebijakan luar negeri yang independen dari Amerika Serikat—yang mereka sebut sebagai "otonomi strategis."

Kanada telah lama menjadi salah satu sekutu terdekat Amerika secara geografis maupun politik. Namun, Beijing berharap agresi ekonomi Presiden Donald Trump—dan kini aksi militernya—terhadap negara lain akan mengikis hubungan lama tersebut.

Beijing yang sebelumnya geram dengan upaya Joe Biden memperkuat aliansi global untuk menghadapi Tiongkok, kini melihat peluang untuk melonggarkan ikatan tersebut. Di sisi lain, Carney berfokus pada perdagangan dan menyatakan kunjungannya bertujuan mengakhiri ketergantungan ekonomi Kanada pada pasar Amerika. Hal ini terjadi setelah Trump memberlakukan tarif pada ekspor Kanada dan secara provokatif menyebut negara kaya sumber daya tersebut bisa menjadi negara bagian ke-51 Amerika.

Pemimpin Kanada yang menjabat tahun lalu ini berusaha menghidupkan kembali hubungan dengan Tiongkok yang sempat memburuk selama lebih dari enam tahun di bawah pendahulunya, Justin Trudeau.

Ketegangan tersebut bermula dari penangkapan eksekutif teknologi Tiongkok pada akhir 2018 atas permintaan AS, dan diperparah oleh kebijakan tarif 100% terhadap kendaraan listrik asal Tiongkok pada 2024. Tiongkok telah membalas dengan tarif pada ekspor Kanada termasuk kanola, makanan laut, dan babi.

"Jika pihak Kanada merenungkan akar penyebab kemunduran hubungan bilateral—yaitu kebijakan pemerintahan Justin Trudeau yang membendung Tiongkok selaras dengan AS—mereka akan menyadari bahwa hasil yang sama dapat dihindari dengan menjunjung otonomi strategis," tulis harian China Daily dalam tajuk rencananya minggu ini.

Para pakar Tiongkok menyebut kedua negara dapat menemukan kesamaan pandangan terkait intervensi militer AS di Venezuela dan pernyataan Trump bahwa Greenland harus berada di bawah kendali AS.

"Kita bisa melihat kegelisahan besar Kanada terhadap AS," ujar Cui Shoujun, pakar kebijakan luar negeri dari Universitas Renmin Tiongkok. "Jika AS bisa mengeklaim Greenland, mungkinkah mereka juga akan mengeklaim Kanada?"

Namun, Tiongkok tetap realistis. Mengingat kedekatan historis, budaya, serta ketakutan akan kekuatan militer dan ekonomi Tiongkok yang kian besar, kecil kemungkinan Kanada akan sepenuhnya berpaling. Zhu Feng, Dekan Studi Internasional di Universitas Nanjing, mengingatkan agar tidak meremehkan ketergantungan sekutu Amerika pada kekuatan ekonomi dan militer AS dalam jangka panjang.

[TOS | AP]



Berita Lainnya