Internasional

Ratusan Warga Venezuela Mulai Daftarkan Kerabat Mereka sebagai 'Tahanan Politik'

Kaltim Today
14 Januari 2026 08:04
Ratusan Warga Venezuela Mulai Daftarkan Kerabat Mereka sebagai 'Tahanan Politik'
Para mahasiswa memajang foto-foto orang-orang yang mereka anggap sebagai tahanan politik di Universitas Pusat Venezuela di Caracas, Venezuela, Selasa, 13 Januari 2026. (AP Photo/Matias Delacroix)

VENEZUELA, Kaltimtoday.co - Kebebasan datang terlambat bagi Edilson Torres. Perwira polisi tersebut dimakamkan pada hari Selasa di kampung halaman pedesaannya yang sederhana, menyusul kematiannya di penjara Venezuela. Ia telah ditahan tanpa akses komunikasi sejak Desember atas tuduhan yang menurut keluarganya bermotif politik. Sebelum pemakaman, iring-iringan jenazah sempat berhenti di penjara lokal, tempat istrinya masih ditahan atas tuduhan yang juga diperdebatkan.

Torres (51 tahun) meninggal karena serangan jantung pada hari Sabtu, tepat saat keluarganya menanti janji pemerintah untuk membebaskan para tahanan pasca-penangkapan Presiden Nicolás Maduro oleh pasukan AS. Kematiannya memicu gelombang keluarga lain—yang sebelumnya takut melapor—untuk kini memberanikan diri mendaftarkan orang tercinta mereka sebagai "tahanan politik."

Alfredo Romero, direktur organisasi Foro Penal, menyatakan bahwa pihaknya menerima "banjir pesan" sejak pekan lalu. "Dulu mereka tidak melapor karena takut, sekarang mereka melakukannya karena melihat adanya kemungkinan keluarga mereka akan dibebaskan," ujar Romero.

Kepala Majelis Nasional Venezuela, Jorge Rodríguez, pekan lalu menjanjikan pembebasan "sejumlah besar" tahanan sebagai langkah "mencari perdamaian" setelah ledakan yang mengguncang negara itu pada 3 Januari lalu.

Namun, terdapat ketidakpastian besar mengenai data tersebut. Hingga Selasa malam, Foro Penal baru mengonfirmasi pembebasan 56 tahanan politik. Sebaliknya, pemerintah mengeklaim angka yang jauh lebih tinggi, yakni 400 orang, tanpa memberikan bukti, identitas, maupun jangka waktu pembebasan tersebut.

"Adikku, adikku," tangis Emelyn Torres saat peti jenazah kakaknya yang berselimut bendera Venezuela tiba di rumah duka. Hanya beberapa jam sebelumnya, Emelyn baru mengetahui bahwa pria-pria lain yang ditangkap karena grup WhatsApp yang sama dengan kakaknya telah dibebaskan. Ia meratap karena kakaknya tidak sempat merasakan kebebasan itu.

Beberapa tokoh yang telah dikonfirmasi bebas antara lain pengacara hak asasi manusia Rocío San Miguel, pemimpin oposisi Biagio Pilieri, dan mantan kandidat presiden Enrique Márquez.

Pebisnis asal Italia, Marco Burlò, yang dibebaskan pada hari Senin, menggambarkan penahanannya sebagai "penculikan yang murni dan nyata." Kepada wartawan di Roma, ia mengaku diisolasi sepenuhnya. "Tanpa bisa berbicara dengan anak-anak, tanpa hak pembelaan, tanpa pengacara, benar-benar terisolasi. Orang-orang di rumah bahkan mengira saya sudah mati," ungkapnya.

Ketegangan politik di Venezuela telah meningkat sejak pemilu 2024 yang kontroversial. Pemerintah sempat mengesahkan undang-undang "anti-LSM" yang memudahkan kriminalisasi terhadap kelompok hak asasi manusia. Hal inilah yang sempat membungkam keluarga korban selama berbulan-bulan. Kini, transisi kekuasaan yang cepat di Venezuela memberikan secercah harapan langka bagi ratusan keluarga yang selama bertahun-tahun bertanya-tanya apakah kerabat mereka akan pernah pulang.

[TOS | AP]



Berita Lainnya