Daerah

Melihat, Menunggu, Lalu Menjadi Korban: Trauma Santriwati di Ponpes Tenggarong Seberang

Supri Yadha — Kaltim Today 15 Juni 2026 18:55
Melihat, Menunggu, Lalu Menjadi Korban: Trauma Santriwati di Ponpes Tenggarong Seberang
Ilustrasi.

Kaltimtoday.co, Tenggarong - Dugaan kasus kekerasan seksual terhadap belasan santri di salah satu pondok pesantren di Kecamatan Tenggarong Seberang tidak hanya menyisakan proses hukum, tetapi juga trauma mendalam bagi para korban.  

Tim Reaksi Cepat Perlindungan Perempuan dan Anak Kalimantan Timur (TRC PPA Kaltim) mendesak kepolisian segera menuntaskan penyelidikan dan menetapkan terduga pelaku sebagai tersangka.

Ketua TRC PPA Kaltim, Rina Zainun, mengaku prihatin karena kasus kekerasan seksual di lingkungan pondok pesantren tersebut kembali terulang. Menurutnya, kasus serupa pernah terjadi sebelumnya dengan korban santri laki-laki, namun kini korban yang muncul merupakan santriwati. 

“TRC PPA Kaltim merasa prihatin karena kejadian ini terus berulang. Yang awalnya dulu santri yang mengalami pencabulan dan kekerasan seksual, sekarang bergeser menjadi santriwati,” kata Rina saat menyampaikan aspirasi dalam aksi di DPRD Kutai Kartanegara (Kukar), Senin (15/6/2026).

Ia menjelaskan, dugaan kekerasan seksual terhadap belasan santri yang diduga dilakukan oleh pimpinan pondok pesantren tersebut telah dilaporkan ke Polda Kalimantan Timur pada awal Juni lalu.

“Kami sangat meminta kepada pihak-pihak kepolisian untuk secepatnya bisa menaikkan kasus ini sehingga terduga pelaku bisa ditetapkan sebagai tersangka,” tegasnya.

Rina menilai kasus tersebut menjadi ironi karena terjadi di lingkungan pendidikan keagamaan yang seharusnya menjadi tempat aman bagi para santri untuk menimba ilmu dan membangun akhlak.

“Karena miris rasanya, di mana seharusnya pondok pesantren adalah rumah ilmu dan akhlak, yang seharusnya zero kasus kekerasan seksual, justru di situ menjadi tempat bagi oknum untuk melakukan tindak kejahatannya,” ucapnya.

Ia juga menyebut kasus tersebut telah melukai rasa keadilan masyarakat dan menimbulkan kekecewaan mendalam.

“Kami merasa sangat-sangat terciderai dengan kasus ini, yang ternyata ‘Walid’ pun ada di daerah Kutai Kartanegara,” tuturnya.

Selain mendorong proses hukum, TRC PPA Kaltim juga menyoroti kondisi psikologis para korban yang hingga kini masih membutuhkan pendampingan intensif.

Menurut Rina, salah satu korban saat ini rutin menjalani pengobatan dan pendampingan psikiater karena mengalami gangguan kecemasan atau anxiety disorder akibat peristiwa yang dialaminya.

“Kondisi korban, terutama salah satu korban, saat ini rutin berobat ke psikiater karena menderita anxiety disorder atau kecemasan berlebih. Setiap kali berbicara dengan kami, tangannya selalu gemetar,” ungkapnya.

Trauma yang dialami korban, lanjut Rina, semakin berat karena menyaksikan langsung perlakuan yang dialami teman-temannya sebelum akhirnya mengalami hal serupa.

“Traumanya sangat dalam karena di depan matanya sendiri melihat bagaimana temannya diperlakukan, kemudian akhirnya giliran dia yang mendapat perlakuan yang sama,” katanya.

Ia menjelaskan, dugaan kekerasan seksual tersebut tidak terjadi secara terpisah, melainkan dilakukan di hadapan korban lainnya. Kondisi itu membuat para santri hidup dalam ketakutan karena akan menjadi korban berikutnya.

“Jadi ini sungguh miris, karena terjadinya kekerasan seksual tersebut bukan satu orang-satu orang, tapi di depan semua korban kejadian itu dilakukan. Jadi traumanya mendalam,” ucapnya.

Dampak psikologis yang dialami para korban disebut sangat serius. Bahkan, salah seorang korban dikabarkan pernah mengalami muntah darah hingga akhirnya memutuskan keluar dari pondok pesantren tersebut.

“Besoknya dia langsung minta pulang tanpa memberitahukan kepada orang tuanya. Tapi itu justru yang memicu psikisnya terganggu hingga saat ini,” pungkasnya. 

[RWT] 



Berita Lainnya